Keamanan Siber Fondasi Perlindungan di Era AI
- 01 Feb 2026 14:28 WIB
- Denpasar
RRI.CO.ID, Jakarta - Ancaman siber di era artifisial intelligence (AI) kini menyasar langsung kehidupan masyarakat. Risiko tidak lagi terbatas pada sistem besar, tetapi menyentuh rekening, identitas, dan perangkat pribadi sehari-hari.
Hal itu dikatakan Wakil Menteri Komunikasi dan Digital Nezar Patria membuka Workshop Cybersecurity di BPSDMP Komdigi Yogyakarta dikutip dari komdigi.go.id. “Sekarang serangan tidak selalu butuh klik. Ada zero click attack. Pesan masuk saja sudah cukup membuat malware bekerja,” kata Wamen Nezar Patria.
Wamen Nezar Patria menjelaskan, AI mengubah pola serangan siber menjadi jauh lebih cepat dan masif. Dengan otomatisasi, pelaku kejahatan dapat memindai jutaan sistem dalam hitungan detik dan memilih target yang dianggap bernilai. “Data Boston Consulting Group (BCG) Desember 2025 menunjukkan serangan berkembang lebih cepat daripada pertahanan. Ini sebabnya warga sering menjadi korban tanpa sadar,” ujarnya.
Wamen Nezar Patria menegaskan, ancaman tidak hanya bersifat teknis, tetapi juga menyasar sisi emosional masyarakat. Menurutnya, pemanfaatan AI dalam penipuan membuat wajah dan suara seseorang bisa dipalsukan secara meyakinkan.
“Sekarang wajah dan suara kita bisa ditiru. Penipuan jadi sangat personal. Banyak korban jatuh karena percaya pada orang yang mereka kenal,” kata Wamen Nezar.
Menurut Wamen Nezar Patria, sistem perlindungan konvensional juga semakin rapuh. Perkembangan AI dan riset komputasi kuantum membuat kata sandi yang selama ini digunakan warga tidak lagi cukup aman.
“Password yang kita buat hari ini pada akhirnya bisa menjadi tidak bermakna. Dunia sedang bergerak ke era pasca kuantum,” ujarnya.
Wamen Nezar Patria menekankan tidak ada ruang aman di dunia digital selama perangkat terhubung dengan jaringan lain. Ancaman dapat datang dari ponsel, aplikasi, hingga perangkat sederhana yang digunakan sehari-hari.
“Selama kita terkoneksi, tidak ada kata aman di ruang digital,” tegasnya.
Wamen Nezar Patria menambahkan, untuk melindungi publik, Kemkomdigi mendorong penerapan pendekatan security by design. Keamanan harus dibangun sejak awal pengembangan sistem, bukan setelah terjadi kebocoran atau serangan.
“Keamanan siber bukan hanya soal teknologi. Ini soal kebiasaan, kesadaran, dan kepemimpinan,” kata Wamen Nezar.
Melalui penguatan talenta dan arsitektur keamanan digital, Kemkomdigi menegaskan peran negara dalam melindungi warga di ruang digital, di tengah pesatnya perkembangan artificial intelligence.
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....