Menelisik Program MBG, Peran Ahli Gizi Jadi Kunci

  • 09 Feb 2026 13:46 WIB
  •  Denpasar

RRI.CO.ID, Denpasar – Program Makan Bergizi Gratis (MBG) terus diperluas pemerintah sebagai upaya meningkatkan kualitas gizi masyarakat. Hingga awal 2026, program ini telah menjangkau lebih dari 56 juta penerima manfaat, mulai dari pelajar SD, SMP, SMA, hingga balita dan ibu hamil, dengan target mencapai 82 juta penerima manfaat pada Desember 2026 melalui penguatan layanan Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) di berbagai daerah.

Dosen Jurusan Gizi Poltekkes Kemenkes Denpasar, Dr. Ir. I Komang Agusjaya Mataram, M.Kes, kepada RRI.CO,ID, Senin, 9 Februari 2026 menilai program MBG merupakan langkah positif dalam membantu pemenuhan kebutuhan gizi generasi muda. Namun, ia menekankan pentingnya kualitas menu yang disesuaikan dengan kebutuhan masing-masing kelompok usia. Oleh karena itu, peran ahli gizi di setiap SPPG sangat penting dalam menyusun menu yang tepat dan seimbang.

“Yang perlu diperhatikan dalam Program MBG adalah kesesuaian menu dengan kebutuhan gizi penerima. Setiap jenjang pendidikan memiliki kebutuhan energi, protein, vitamin, dan mineral yang berbeda, sehingga harus dicermati oleh ahli gizi di SPPG.” tegasnya.

Selain kecukupan gizi, Dr. Agusjaya Mataram menekankan evaluasi status gizi penerima manfaat juga perlu dilakukan secara berkala. Pemberian makanan tambahan tanpa pemantauan berpotensi menimbulkan masalah baru, seperti kelebihan berat badan dan obesitas.

“Pemberian makanan harus disesuaikan dengan kondisi anak. Jika status gizinya sudah optimal tetapi tetap ditambah porsinya, hal itu berpotensi menimbulkan masalah baru seperti kelebihan berat badan dan obesitas, sehingga perlu evaluasi dan penyesuaian kebijakan.” jelasnya.

Dr. Agusjaya Mataram berharap, ke depan pelaksanaan MBG semakin mengedepankan standar gizi yang jelas dan terukur untuk setiap sasaran, mulai dari anak-anak, remaja, balita, hingga ibu hamil. Keberadaan tenaga ahli gizi juga diharapkan mampu meningkatkan keamanan pangan, sehingga risiko pencemaran dan keracunan makanan dapat dicegah, serta manfaat program dapat dirasakan secara optimal.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....