Tumbuh di Pesisir, namun Jarang Ditemui di Meja Makan

  • 27 Agt 2026 13:19 WIB
  •  Denpasar

RRI.CO.ID, Denpasar – Berjalan di kawasan pesisir, kita mungkin lebih akrab dengan pohon kelapa atau pandan tanpa pernah menyadari bahwa salah satu jenisnya menghasilkan buah yang bisa dimanfaatkan sebagai pangan. Buah tersebut dikenal sebagai buah hala atau pandan laut (Pandanus tectorius), tanaman yang secara alami banyak ditemukan di kawasan pantai dan pulau-pulau kecil.

Pandan laut bukan tanaman asing di wilayah tropis, bahkan penyebarannya cukup luas dari Asia hingga kepulauan Pasifik. Tanaman ini mampu tumbuh di lingkungan pesisir dan dalam berbagai kondisi, sehingga keberadaannya sebenarnya cukup dekat dengan kehidupan masyarakat di wilayah pantai.

Yang menarik, buahnya ternyata tidak sekadar memiliki bentuk yang unik, tetapi juga menyimpan sejumlah zat gizi. Penelitian Universitas Papua yang diterbitkan dalam Jurnal Aplikasi Teknologi Pangan pada 2018 menemukan daging buah pandan laut mengandung karbohidrat sekitar 71,6–89,9 persen, serat kasar 24,4–27,3 persen, serta β-karoten yang berkisar 11,2–33,2 ppm berdasarkan berat kering.

Penelitian yang sama juga menemukan adanya perubahan kandungan seiring tingkat kematangan buah, termasuk kecenderungan peningkatan gula total dan β-karoten. Pada beberapa sampel yang diteliti, daging buah yang semakin matang berubah menjadi kuning hingga oranye, warna yang berkaitan dengan keberadaan karotenoid.

Lalu, kalau memang bisa dimakan dan memiliki kandungan gizi, mengapa buah hala belum begitu dikenal sebagai bahan pangan sehari-hari di Indonesia? Salah satu kemungkinan yang perlu diperhatikan adalah pemanfaatannya memang belum berkembang luas, berbeda dengan sejumlah wilayah kepulauan Pasifik yang sejak lama mengenal pandanus sebagai salah satu sumber pangan.

Bagi masyarakat di beberapa kepulauan Pasifik, buah pandanus dapat dikonsumsi dalam keadaan tertentu secara langsung maupun setelah dimasak. FAO mencatat buah tersebut juga dapat diolah menjadi tepung atau pasta untuk disimpan lebih lama, sementara dalam sejumlah tradisi pengolahannya buah dimasak bersama kelapa atau bahan pangan bertepung lainnya.

Perbedaan kebiasaan inilah yang membuat buah hala menarik untuk dilihat bukan semata dari kandungan gizinya, tetapi juga dari bagaimana suatu bahan pangan diterima dan diwariskan dalam budaya masyarakat. Sebuah tanaman bisa tumbuh melimpah di lingkungan tertentu, tetapi belum tentu otomatis menjadi bagian dari pola makan jika pengetahuan mengenai pengolahan dan kebiasaan mengonsumsinya tidak berkembang luas.

Di Indonesia sendiri, penelitian mengenai buah pandan laut menunjukkan adanya peluang untuk mengembangkannya menjadi berbagai produk pangan, tetapi kajian tersebut juga menunjukkan bahwa pemanfaatannya masih membutuhkan pengembangan lebih lanjut. Buah hala pada akhirnya bukan sekadar buah unik yang tumbuh di tepi pantai, melainkan salah satu contoh pangan lokal yang mungkin masih menyimpan potensi untuk lebih dikenal, terutama di wilayah pesisir dan pulau-pulau kecil.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....