Pesona Cappuccino: Dari Asal-usul Biara Italia hingga Menjadi Ikon Kopi Dunia
- 07 Agt 2026 14:34 WIB
- Denpasar
RRI.CO.ID, Denpasar - Cappuccino kini menjadi salah satu menu racikan kopi berbasis espresso paling populer di berbagai kedai kopi seluruh dunia. Perpaduan harmonis antara rasa pahit espresso yang kuat, gurihnya susu hangat, serta lapisan busa susu (milk foam) yang lembut menjadikan sajian ini favorit masyarakat di berbagai kalangan. Namun, di balik kepopulerannya, sajian kopi khas Italia ini menyimpan sejarah panjang dan aturan penyajian yang unik.
Nama cappuccino berasal dari kata bahasa Italia cappuccio, yang berarti penutup kepala atau kupluk. Berdasarkan catatan sejarah kuliner internasional, istilah ini merujuk pada pakaian jubah berwarna cokelat kemerahan yang dikenakan oleh para biarawan dari Ordo Capuchin (Cottolengo) di Italia pada abad ke-16. Warna racikan kopi yang dihasilkan dari pencampuran espresso dan susu dinilai sangat mirip dengan warna jubah para biarawan tersebut.
Sebelum menjelma menjadi racikan modern seperti sekarang, bentuk awal cappuccino dikenal di Austria pada abad ke-18 dengan sebutan Kapuziner. Pada era tersebut, Kapuziner merupakan minuman kopi saring yang dicampur dengan gula, krim kocok (whipped cream), dan kuning telur. Racikan cappuccino modern berbasis espresso baru tercipta secara resmi di Italia pada awal abad ke-20, seiring dengan ditemukannya mesin espresso komersial.
Dalam standar barista internasional, racikan cappuccino klasik mengusung rumus rasio seimbang 1:1:1. Formula ini terdiri dari satu bagian single shot espresso, satu bagian susu panas (steamed milk), dan satu bagian busa susu tebal (microfoam). Keberadaan lapisan busa tebal di bagian atas berfungsi menjaga suhu panas kopi di bawahnya agar tidak cepat dingin sekaligus memberikan tekstur lembut saat disesap.
Tradisi minum cappuccino di negara asalnya, Italia, juga memiliki aturan budaya yang cukup ketat. Masyarakat Italia umumnya hanya mengonsumsi cappuccino pada pagi hari sebelum pukul 11.00 sebagai pelengkap sarapan. Mengonsumsi kopi bertekstur susu tebal setelah jam makan siang atau makan malam dianggap kurang baik bagi proses pencernaan tubuh.
Seiring berkembangnya gelombang industri kopi modern (third wave coffee), cappuccino mengalami berbagai inovasi penyajian. Para barista kini kerap menambahkan seni hiasan busa susu (latte art) hingga menyajikannya dalam versi dingin (iced cappuccino) untuk menyesuaikan iklim tropis seperti di Indonesia. Kendati demikian, keseimbangan rasa antara ketajaman rasa kopi dan kelembutan susu tetap menjadi kunci utama kelezatan racikan cappuccino.
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....