Nikmatnya Chilli Oil, Dari Tradisi Kuno hingga Jadi Tren Kuliner Dunia
- 05 Mei 2026 09:43 WIB
- Denpasar
RRI.CO.ID, Denpasar – Minyak cabai, atau yang lebih dikenal secara global sebagai chilli oil, menawarkan sensasi yang menggoda. Di balik warna merahnya, chilli oil memberikan aroma yang kuat dan sejarah yang panjang.
Kemunculan chilli oil berakar pada tradisi kuliner Asia Timur. Kini, bumbu ini telah bertransformasi dari sekadar penghangat masakan di pedalaman Tiongkok menjadi "bintang tamu" yang wajib di meja makan restoran-restoran mewah maupun dapur rumah tangga di seluruh dunia.
Dikutip dari laman Times of India, sejarah chilli oil berawal dari zaman Tiongkok kuno. Dahulu, bumbu ini diciptakan sebagai cara untuk memberikan kedalaman rasa dan sensasi panas pada masakan. Penggunaannya juga sangat masif di wilayah-wilayah yang terkenal dengan makanan pedas, seperti Sichuan, Hunan, Guizhou, dan Shaanxi.
Daya tarik utama chilli oil terletak pada perpaduan bahan yang terlihat sederhana namun menghasilkan rasa yang kompleks. Komponen utamanya terdiri dari :
Cabai kering, yang memberikan sensasi panas dan warna merah yang pekat.
Minyak nabati, yang digunakan berfungsi sebagai pelarut yang menyerap minyak esensial dari cabai. Biasanya menggunakan minyak kedelai, wijen, atau bahkan minyak zaitun.
Bawang putih, yang akan memunculkan lapisan aroma nutty dan gurih yang kuat.
Di berbagai wilayah, chilli oil diperkaya dengan lada Sichuan, yang memberikan sensasi kebas, bunga lawang, kayu manis, hingga biji wijen. Salah satu varian yang paling populer saat ini adalah chili crisp. Berbeda dengan minyak cabai biasa yang bening, chili crisp menyertakan potongan bahan padat yang renyah seperti bawang goreng, kedelai fermentasi (douchi), atau kacang tanah, memberikan tekstur yang kontras saat disantap.
Seiring berjalannya waktu, chilli oil melintasi batas negara dan beradaptasi dengan lidah lokal, seperti di Jepang. Awalnya diperkenalkan dari Tiongkok, Jepang mengembangkan varian taberu rāyu pada tahun 2009.
Varian ini lebih fokus pada rasa gurih dan kerenyahan daripada rasa pedas yang menyengat. Minyak cabai bernama Olio di Peperoncino ini berasal dari Calabria, Italia Selatan.
Minyak ini menggunakan basis minyak zaitun dengan sentuhan rasa asin yang unik. Sementara itu, versi Meksiko bernama Salsa Macha ini sering menggunakan kacang tanah, biji bunga matahari, atau biji labu untuk memberikan tekstur yang lebih kaya.
Sementara itu di Turki, minyak cabai Digunakan sebagai pelengkap mantı, pangsit ala Turki, yang disiram di atas saus yogurt bawang putih. Chilli oil menawarkan cara instan untuk mengubah hidangan yang membosankan menjadi sebuah karya seni penuh rasa.
Entah membuatnya sendiri di rumah atau membelinya dalam kemasan botol kaca, chilli oil tetap menjadi pilihan terbaik untuk dapur Anda.
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....