Kopi Luwak jadi Komoditas Elit: Padahal Berasal dari Kotoran Hewan, Ini Alasannya!
- 16 Apr 2026 10:05 WIB
- Denpasar
RRI.CO.ID., Denpasar – Nama Kopi luwak sudah tidak asing lagi kita dengar, terutama bagi para penikmat kopi Indonesia khususnya Bali. Tahukah kamu? kopi luwak merupakan seduhan kopi menggunakan biji kopi yang diambil dari sisa kotoran luwak/musang kelapa. Biji kopi ini diyakini memiliki rasa yang berbeda setelah dimakan dan melewati saluran pencernaan luwak.
Banyak yang heran, kok bisa kopi hasil “buangan” luwak jadi barang mewah dan jika dijual harganya fantastis? Jawabannya bukan sekadar tren, tapi soal Sains & Sejarah. Ternyata ada penjelasan ilmiah dan sejarahnya di balik kopi ini sehingga menjadi komoditas mewah di pasar.
Dikutip dari akun media sosial instagram @inspakta.id, kopi luwak pertama ditemukan oleh para petani pribumi dimasa tanam paksa (cultuurstelsel) di abad ke-19. Pada saat itu, pemerintah Belanda melarang petani memetik buah kopi untuk konsumsi pribadi. Semua hasil panen harus diserahkan ke kompeni.
Para petani yang pada saat itu ingin mencoba rasa kopi, secara tidak sengaja menemukan biji kopi yang masih utuh di kotoran musang (luwak). Mereka lalu membersihkannya, menyangrai dan menyeduhnya.
Plot twistnya adalah, ternyata rasa kopi dari kotoran ini jauh lebih enak daripada kopi perkebunan. Akhirnya, kabar ini sampai ke telinga pemilik perkebunan Belanda dan jadilah kopi ini barang elit sejak zaman kolonial Belanda.
Selain memiliki sejarah dimasa kolonial Belanda, ternyata ada beberapa faktor lain yang menyebabkan harga kopi luwak bernilai fantastis. Pertama adalah adanya seleksi ilmiah. Luwak adalah pemakan yang sangat pilih-pilih. Di alam liar mereka hanya memakan buah kopi yang benar-benar matang sempurna (merah tua) dan berkualitas tinggi dengan mengandalkan indra penciumannya yang tajam.
Kedua, proses produksi terbatas. Sangat sulit mengumpulkan kotoran luwak liar di hutan, untuk melakukannya membutuhkan waktu yang cukup lama jika dibandingkan dengan memetik kopi di dahan pohon.
Penyebab ketiga, dari segi sertifikasi dan etika. Saat ini, harga kopi luwak liar (wild civet) jauh lebih mahal daripada luwak kandang karena faktor kesejahteraan hewan dan kualitas rasa yang lebih kompleks. Kira-kira seperti itulah penjelasan baik dari segi ilmiah maupun sejarahnya, sehingga kopi luwak menjadi komoditas elit yang bernilai fantastis di pasar.
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....