Kenapa Senioritas Tetap Muncul di Dunia Pendidikan?

  • 16 Agt 2024 06:37 WIB
  •  Denpasar

KBRN, Denpasar: Kasus perundungan yang dilakukan senior kepada juniornya hingga berujung bunuh diri di salah satu perguruan tinggi di tanah air, menambah panjang daftar korban tragedi akibat budaya senioritas. Senioritas telah lama menjadi bagian dari dinamika dalam dunia pendidikan, terutama dalam kegiatan orientasi bagi anggota baru. Meski kegiatan ini awalnya dimaksudkan untuk membantu anggota baru beradaptasi dengan lingkungan baru, praktik senioritas sering kali menjadi kontroversi. Senioritas di dunia pendidikan muncul dari pandangan bahwa mereka yang lebih berpengalaman, baik karena usia maupun lama studi, memiliki hak untuk mengarahkan, menuntun, atau bahkan memerintah junior mereka. Tradisi ini sudah begitu mengakar dan dianggap sebagai hal yang wajar dalam proses pengenalan kampus dengan dalih untuk melatih ketahanan mental. Senioritas sering kali menjadi simbol kekuasaan di mana senior merasa lebih superior dan berhak menentukan apa yang harus dilakukan junior. Hubungan hierarkis ini menciptakan kesenjangan yang memperlebar jarak antara senior dan junior, sehingga sulit untuk membangun komunikasi yang sehat.

Psikolog Klinis RSUD Bangli, Galang Dharma, M.Psi., Psikolog, menuturkan bahwa mental senioritas terbentuk salah satunya akibat hasil belajar sosial. Seseorang belajar dengan melihat, mengamati, dan menghayati perilaku seniornya sebelumnya. Sikap dan perilaku senior kemudian dihayati sebagai sesuatu yang menghasilkan konsekuensi positif bagi individu. Semisal, ketika senior terdahulu gemar bersikap galak, dan membentak-bentak sehingga membuat adik kelas menjadi ketakutan dan hormat padanya. Apabila seorang individu meyakini bahwa sikap galak dan membentak junior akan berimbas pada tumbuhnya rasa hormat dari junior kepadanya, maka kebiasaan itu akan ia asosiasikan sebagai konsekuensi positif untuk dilakukan. Galang Dharma menambahkan, pada prinsipnya apabila suatu perilaku berkonsekuensi positif bagi seseorang maka cenderung perilaku itu akan dilakukan berulang, meskipun perilaku tersebut keliru.

Namun, meski sulit dihindari, ada cara-cara yang lebih bijak untuk menghadapi senioritas. Membangun komunikasi yang nyaman dengan senior, meningkatkan rasa saling menghargai, dan percaya diri dalam mengekspresikan pendapat adalah beberapa langkah yang dapat diambil untuk mengurangi dampak negatif dari praktik ini.

”Memang tidak mudah berkomunikasi dengan senior yang punya mental senioritas yang bernuansa negatif. Adik kelas, perlu berhati-hati dalam menyampaikan pesan. Format yang dapat digunakan adalah memberi salam, sampaikan maaf atau minta izin untuk mengganggu waktunya, lalu sampaikan ide atau hal yang menjadi inti pesan, lalu tutup dengan terima kasih. Hindari menggunakan kalimat perintah, dan sebaiknya gunakan kalimat bernuansa netral,” terang Galang Dharma.

Sikap senioritas tidak akan berhenti jika itu merupakan tuntutan dari junior, Melainkan individu yang saat itu berposisi sebagai senior. Atau, ketika seorang junior saat menjadi senior termotivasi secara intrinsik untuk mau menghentikan pola senioritas tersebut. Idealnya, senioritas bukanlah tentang menunjukkan kekuasaan atau memaksakan kehendak, melainkan memberikan motivasi dan dukungan kepada junior. Melalui pendekatan yang lebih positif dan saling menghargai, budaya senioritas dapat diubah menjadi sesuatu yang lebih bermanfaat, membantu membangun lingkungan pendidikan yang inklusif dan mendukung.


Rekomendasi Berita

Berita Terbaru

Memuat berita terbaru.....