Ciri-ciri Toxic Relationship

  • 06 Sep 2024 11:16 WIB
  •  Denpasar

KBRN, Denpasar : Hubungan yang tidak sehat atau toxic relationship adalah hubungan yang membuat seseorang merasa tidak aman secara fisik maupun mental. Tidak hanya terjadi dalam hubungan asmara saja, tetapi juga bisa terjadi dalam lingkup pertemanan, pekerjaan, hingga di dalam keluarga.

Psikiater, dr. Amelia Dwi , NS, SpKJ mengatakan, hubungan yang toksik biasanya akan melibatkan kurangnya penghargaan terhadap orang lain sehingga sering melanggar batasan pribadinya, bahkan sering dilakukan tanpa sadar.

“Ketika kondisi ini dibarengi dengan tujuan untuk menyakiti orang lain atau pasangan, maka hubungan tersebut bisa dikatakan sebagai hubungan abusive atau hubungan yang melibatkan kekerasan, hubungan yang melibatkan kekerasan tersebut tidak selalu dalam konteks fisik, namun juga bisa berupa kekerasan psikologis dan emosional,”ujarnya dalam dialog Indonesia Bisa, Kamis (5/9/2024).

Dokter Amel menjelaskan, hubungan toksik bisa memiliki beberapa ciri-ciri utama dan tanda-tanda yang umumnya dianggap sebagai indikasi hubungan toksik, seperti komunikasi yang buruk, komunikasi dalam hubungan toksik sering kali penuh dengan kritik, penghinaan, atau bahkan diam yang tidak sehat. Tidak ada ruang untuk dialog yang konstruktif, dan satu atau kedua belah pihak merasa tidak didengar atau tidak dihargai. Salah satu pasangan mungkin mencoba mengendalikan aspek-aspek kehidupan pasangan lainnya, seperti siapa yang bisa mereka temui, bagaimana mereka harus berpakaian, atau apa yang mereka lakukan. Kontrol ini sering kali disertai dengan manipulasi emosional.

“Pasangan mungkin merasa cemas, takut, atau tidak nyaman dalam hubungan, perasaan ini bisa muncul karena seringnya kritik, ancaman, atau ketidakpastian mengenai masa depan hubungan, kurangnya dukungan bisa juga menjadi tanda, karena sesungguhnya dalam hubungan yang sehat, pasangan saling mendukung dan mendorong satu sama lain, namun dalam hubungan toksik, ada kekurangan dukungan emosional atau bahkan kemunduran dalam hal dukungan, di mana satu pasangan mungkin merasa terabaikan atau tidak dihargai,”jelasnya.

Ciri lain adalah salah satu pasangan terlalu bergantung pada pasangan lainnya untuk kebahagiaan dan harga diri mereka, yang bisa menyebabkan dinamika kekuasaan yang tidak sehat dan perasaan ketidakberdayaan. Perilaku tidak hormat termasuk penghinaan, ejekan, atau pelecehan emosional dan fisik. Perilaku semacam ini bisa merusak harga diri dan kesejahteraan mental seseorang. Hubungan toksik sering kali melibatkan kekerasan fisik, emosional, atau verbal. Kekerasan ini bisa meliputi pemukulan, intimidasi, atau ancaman.

Seseorang dalam hubungan toksik merasa mereka harus mengubah siapa mereka atau mengorbankan nilai-nilai mereka untuk menjaga hubungan. Ini bisa menyebabkan kehilangan rasa diri dan ketidakpuasan yang mendalam.

Munculnya masalah yang sama terus-menerus muncul dan tidak pernah benar-benar diselesaikan. Konflik tidak ditangani dengan cara yang konstruktif, dan seringkali perasaan tidak puas terus memburuk.

“Jika seseorang mengalami beberapa atau semua ciri ini dalam hubungan mereka, perlu untuk mencari dukungan dari seorang profesional, seperti psikiater atau konselor, untuk membantu menilai situasi dan menentukan langkah-langkah yang tepat untuk melindungi kesejahteraan atau meregulasi emosinya,”pungkasnya.

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru

Memuat berita terbaru.....