Mengapa Kita Bisa Terbiasa Bernapas lewat Mulut?

  • 30 Sep 2026 07:09 WIB
  •  Denpasar

RRI.CO.ID, Denpasar – Bernapas melalui mulut sesekali, misalnya ketika hidung sedang tersumbat, merupakan hal yang dapat terjadi pada siapa saja. Namun, jika seseorang terus-menerus bernapas melalui mulut, termasuk saat tidur, kondisi tersebut dapat menjadi tanda adanya gangguan pada saluran pernapasan yang perlu diperhatikan.

Kementerian Kesehatan menjelaskan, kebiasaan bernapas melalui mulut dapat berkaitan dengan tersumbatnya saluran hidung akibat beberapa kondisi, seperti alergi, pembesaran amandel, atau kelainan struktur hidung. Sinusitis kronis dan deviasi septum juga dapat membuat seseorang kesulitan bernapas melalui hidung sehingga lebih sering menggunakan mulut untuk bernapas.

Salah satu tanda yang dapat diamati adalah posisi mulut yang sering terbuka, baik ketika beraktivitas maupun saat tidur. Kemenkes juga mencatat bahwa orang yang bernapas melalui mulut dapat mengalami mendengkur dan perubahan pola menelan atau posisi lidah, terutama ketika kondisi tersebut sudah berlangsung dalam waktu lama.

Masalahnya bukan sekadar posisi mulut, karena bernapas melalui mulut dapat membuat rongga mulut lebih mudah kering. American Dental Association menjelaskan bahwa bernapas melalui mulut dapat memperburuk kondisi mulut kering, sementara berkurangnya kelembapan dan air liur dapat meningkatkan risiko karies, sensitivitas gigi, serta infeksi di dalam mulut.

Pada anak, kebiasaan tersebut juga perlu diperhatikan karena dapat berkaitan dengan gangguan tidur dan perkembangan fungsi mulut serta wajah. Kemenkes menyebut mouth breathing yang menetap dapat berhubungan dengan gangguan pertumbuhan kraniofasial, bicara, nutrisi, kualitas tidur dan proses belajar, sementara American Academy of Pediatric Dentistry menganjurkan anak dengan dugaan gangguan pernapasan saat tidur untuk mendapat evaluasi medis.

Bernapas melalui mulut juga dapat muncul bersamaan dengan gangguan tidur seperti obstructive sleep apnea atau apnea tidur obstruktif, terutama jika disertai dengkuran keras dan jeda napas ketika tidur. American Academy of Pediatrics merekomendasikan anak dan remaja yang mendengkur serta memiliki tanda atau gejala apnea tidur untuk mendapatkan evaluasi lebih lanjut, karena kondisi tersebut dapat memengaruhi tidur dan kesehatan anak.

Meski demikian, tidak semua orang yang sesekali bernapas melalui mulut mengalami penyakit tertentu karena kondisi seperti pilek, alergi atau hidung tersumbat sementara juga dapat membuat seseorang kesulitan bernapas melalui hidung. Yang perlu diperhatikan adalah kebiasaan yang berlangsung terus-menerus, terutama jika disertai mendengkur, tidur tidak nyenyak, hidung sering tersumbat, mulut kering atau gangguan bernapas saat tidur.

Karena penyebabnya dapat berbeda, mengatasi kebiasaan bernapas melalui mulut sebaiknya dimulai dengan mencari tahu mengapa hidung atau saluran napas sulit digunakan untuk bernapas. Jika kondisi menetap atau disertai gangguan tidur dan pernapasan, pemeriksaan oleh tenaga kesehatan dapat membantu menemukan penyebabnya sehingga penanganan diberikan sesuai kondisi yang mendasarinya.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....