Batuk Tak Kunjung Reda, Kenali Kapan Perlu Diperiksa

  • 30 Sep 2026 07:11 WIB
  •  Denpasar

RRI.CO.ID, Denpasar – Batuk merupakan mekanisme alami tubuh untuk membersihkan saluran pernapasan dan pada banyak kasus dapat membaik dengan sendirinya dalam beberapa minggu. Namun, ketika batuk berlangsung lebih dari tiga minggu atau justru semakin berat, kondisi tersebut perlu mendapat perhatian dan dapat menjadi alasan untuk memeriksakan diri ke tenaga kesehatan.

Salah satu penyakit yang dapat menyebabkan batuk berkepanjangan adalah pertusis atau yang dikenal sebagai batuk rejan. Kementerian Kesehatan menjelaskan, penyakit yang disebabkan bakteri Bordetella pertussis ini sangat menular dan dapat berlangsung sekitar enam minggu melalui beberapa tahap gejala.

Yang membuat pertusis kerap sulit dikenali pada awal penyakit adalah gejalanya yang menyerupai pilek biasa. Menurut CDC, fase awal selama satu hingga dua minggu dapat berupa pilek, hidung tersumbat, demam ringan dan batuk ringan sebelum berkembang menjadi serangan batuk yang lebih berat.

Pada fase berikutnya, batuk dapat muncul dalam serangan yang berulang dan cepat, kemudian diikuti tarikan napas panjang dengan suara melengking yang dikenal sebagai whoop. Serangan batuk juga dapat menyebabkan muntah, kelelahan, gangguan tidur hingga kesulitan bernapas, sementara batuk tersebut dapat berlangsung selama beberapa minggu.

Meski demikian, tidak semua penderita pertusis mengalami suara whoop yang khas, terutama pada orang yang sudah pernah mendapat vaksinasi dan pada bayi. WHO mencatat pertusis paling berbahaya bagi bayi, sedangkan CDC menyebut bayi dapat mengalami jeda napas atau kesulitan bernapas tanpa batuk yang jelas.

Batuk yang berlangsung lama juga tidak otomatis berarti pertusis karena terdapat berbagai kemungkinan penyebab lain. NHS mencatat batuk dapat berkaitan dengan infeksi saluran pernapasan, sementara batuk menetap juga dapat membutuhkan pemeriksaan lebih lanjut, terutama jika berlangsung lebih dari tiga minggu atau disertai penurunan berat badan tanpa sebab yang jelas.

Kementerian Kesehatan menyebut diagnosis pertusis pada tahap awal dapat menjadi tantangan karena gejalanya menyerupai penyakit saluran pernapasan lain, sehingga pemeriksaan oleh dokter diperlukan untuk menentukan penyebabnya. Jika diperlukan, pemeriksaan dapat mencakup pengambilan sampel dari saluran pernapasan dan pemeriksaan PCR untuk mendeteksi bakteri penyebab pertusis.

Karena itu, batuk yang menetap sebaiknya tidak langsung dianggap sebagai batuk biasa, terutama jika semakin berat, muncul dalam serangan hebat, menyebabkan muntah atau disertai kesulitan bernapas. Pemeriksaan medis menjadi lebih penting ketika batuk disertai nyeri dada, kondisi tubuh memburuk dengan cepat, atau terjadi pada bayi dan anak kecil karena pertusis dapat menyebabkan komplikasi serius seperti pneumonia dan gangguan pernapasan.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....