Mengenal ‘Angin Duduk’ dalam Istilah Medis
- 30 Sep 2026 07:13 WIB
- Denpasar
RRI.CO.ID, Denpasar – Istilah “angin duduk” sudah lama dikenal masyarakat untuk menggambarkan keluhan berupa nyeri atau rasa tertekan di dada. Dalam dunia medis, keluhan tersebut dapat berkaitan dengan angina, yaitu gejala ketika otot jantung tidak memperoleh pasokan darah dan oksigen yang cukup.
Kementerian Kesehatan menjelaskan bahwa angina pektoris dapat ditandai dengan rasa tertekan atau nyeri di dada yang dapat menjalar ke lengan maupun leher. Keluhan juga dapat disertai mual dan keringat dingin, sehingga kondisi ini tidak sebaiknya dianggap sebagai keluhan ringan.
Istilah “angin duduk” juga kerap dikaitkan dengan “masuk angin”, padahal keduanya merujuk pada kondisi yang berbeda. Kemenkes menyebut “masuk angin” bukan istilah diagnosis medis dan gejalanya lebih sering digunakan masyarakat untuk menggambarkan kondisi menyerupai flu, sedangkan angina berkaitan dengan gangguan aliran darah ke otot jantung.
Menurut American Heart Association, angina bukanlah penyakit, melainkan gejala dari masalah pada jantung yang umumnya berkaitan dengan penyakit jantung koroner. Rasa tidak nyaman dapat berupa tekanan, sesak atau seperti diremas, kemudian menjalar ke bahu, lengan, leher, rahang, punggung atau bagian tubuh lainnya.
Keluhan angina juga tidak selalu muncul sebagai nyeri dada yang khas, karena sebagian orang dapat mengalami sesak napas atau kelelahan tanpa rasa sakit yang jelas. NHS mencatat gejala lain yang dapat menyertai angina antara lain mual, pusing dan berkeringat, dengan keluhan yang dapat dipicu aktivitas fisik, stres, emosi atau udara dingin.
Angina dapat dibedakan menjadi beberapa jenis, termasuk angina stabil dan tidak stabil, dengan karakteristik serta tingkat kegawatan yang berbeda. American Heart Association menjelaskan bahwa angina tidak stabil membutuhkan penanganan medis segera karena dapat menjadi bagian dari kondisi yang berisiko berkembang menjadi serangan jantung.
Risiko angina dapat meningkat pada orang dengan tekanan darah tinggi, kadar kolesterol tidak sehat, diabetes, kebiasaan merokok, kurang aktivitas fisik, berat badan berlebih dan riwayat penyakit jantung dalam keluarga. Kemenkes juga menganjurkan aktivitas fisik teratur, pola makan sehat, mengurangi asupan garam, menjaga berat badan dan berhenti merokok sebagai bagian dari upaya mengurangi risiko.
Karena nyeri dada dapat memiliki berbagai penyebab, pemeriksaan tenaga kesehatan diperlukan untuk menentukan kondisi yang sebenarnya, termasuk melalui elektrokardiogram atau pemeriksaan lain sesuai kebutuhan. Jika nyeri dada muncul tiba-tiba, tidak kunjung reda, menjalar ke lengan, leher atau rahang, atau disertai sesak napas, keringat dingin, mual maupun pusing, American Heart Association dan NHS menganjurkan segera mencari pertolongan medis darurat.
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....