PERKI Bali Bekali Warga Pengetahuan Pertolongan Henti Jantung
- 21 Sep 2026 09:07 WIB
- Denpasar
RRI.CO.ID, Denpasar - Henti jantung mendadak dapat terjadi dalam waktu singkat ,sehingga kemampuan orang di sekitar korban untuk memberikan pertolongan pertama menjadi hal penting. Menjelang peringatan Hari Jantung Sedunia (World Heart Day 2026) tanggal 29 September 2026, Perhimpunan Dokter Spesialis Kardiovaskuler Indonesia ( PERKI ) Cabang Bali mengajak masyarakat untuk mengenal bantuan hidup dasar, sebagai langkah awal ketika menemukan seseorang yang tiba-tiba tidak sadar dan mengalami henti jantung.
Dokter spesialis jantung dan pembuluh darah sekaligus dosen Fakultas Kedokteran Universitas Udayana, dr.Putu Primeriana Nugiaswari,Sp.JP,FIHA., ketika berbincang dalam acara Rahina Ayu di Pro 4 RRI Denpasar, menjelaskan dalam kegiatan World Heart Day 2026, PERKI Cabang Bali menyiapkan pelatihan bantuan hidup dasar bagi masyarakat awam agar mereka tidak hanya mengetahui istilah pertolongan pertama, tetapi juga memahami praktiknya. “Jadi yang kami sasar pada World Heart Day itu untuk menambah pengetahuan dan keterampilan masyarakat dengan praktek langsung dalam pelatihan bantuan hidup dasar tersebut” kata dr. Nugi.
dr. Nugi menambahkan puncak kegiatan World Heart Day 2026 akan berlangsung pada Minggu, 27 September 2026 di Lapangan Puputan Renon, Denpasar dan terbuka untuk masyarakat umum. Selain pelatihan bantuan hidup dasar, kegiatan tersebut juga akan diisi talk show, senam jantung sehat, serta pemeriksaan dan screening jantung gratis untuk membantu masyarakat mengetahui kondisi kesehatan jantungnya.
Ia mengungkapkan pertolongan yang diberikan segera, dapat membantu korban sebelum mendapatkan penanganan lebih lanjut dari tenaga medis. “Kalau misalnya di luar rumah sakit, out of hospital cardiac arrest namanya, kita bisa membantu dengan pijat jantung. Jadi pijat jantung segera itu saat seseorang ditemukan tidak sadar, langsung dilakukan pijat jantung,” ujar dr. Nugi.
Dikatakan, kondisi henti jantung di luar rumah sakit, berbeda dengan kejadian di dalam rumah sakit, karena akses terhadap peralatan dan tenaga medis tidak selalu tersedia dalam waktu yang sama. Karena itu, kemampuan masyarakat melakukan kompresi dada, menjadi pengetahuan yang penting, sementara bantuan medis tetap perlu segera diminta.
dr. Nugi mengingatkan, ketika seseorang tiba-tiba jatuh dan tidak sadar, korban harus segera mendapat pertolongan dengan tetap memperhatikan keamanan lokasi kejadian, dan melakukan kompresi dada menggunakan teknik yang benar.
“Pada saat dia collapse itu diposisikan telentang, itu dicari tengah dada di antara kedua puting, itu turun sedikit satu telapak tangan, jadi di tulang dada itu kita lakukan pijat jantung,” ucap dr.Nugi.
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....