Ini Perbedaan Utama Keracunan dan Alergi Makanan yang Sering Dianggap Sama

  • 15 Sep 2026 08:44 WIB
  •  Denpasar
Poin Utama
  • Keracunan makanan dan alergi makanan memiliki mekanisme serta dampak yang sangat berbeda, namun sering kali membingungkan masyarakat.
  • Keracunan makanan dapat menimpa siapa saja yang mengonsumsi makanan tercemar, tanpa memandang kondisi kesehatan individu.
  • Alergi makanan hanya berdampak pada individu tertentu yang memiliki sensitivitas khusus terhadap jenis makanan tertentu.

RRI.CO.ID, Denpasar - Masalah kesehatan yang timbul usai menyantap hidangan kerap memicu kebingungan di masyarakat. Tidak sedikit orang yang kesulitan membedakan antara reaksi keracunan makanan dan alergi makanan, padahal keduanya memiliki mekanisme serta dampak yang sangat berbeda.

Penjelasan mendalam mengenai hal ini disampaikan oleh Ketua UKK Emergensi dan Terapi Intensif Anak Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI), Yogi Prawira, dalam sebuah diskusi media di Jakarta. Ia menegaskan bahwa keracunan dapat menimpa siapa saja yang mengonsumsi makanan tercemar, sementara alergi hanya berdampak pada individu tertentu yang memiliki sensitivitas khusus.

Berdasarkan laporan ANTARA, keracunan makanan dipicu oleh konsumsi hidangan atau air yang terkontaminasi kuman seperti bakteri, racun, virus, parasit, atau bahan kimia. Gejalanya—seperti mual, muntah, diare, nyeri perut, hingga demam—biasanya muncul beberapa jam hingga dua hari setelah dikonsumsi dan berpotensi menimbulkan Kejadian Luar Biasa (KLB) atau wabah.

Sebaliknya, alergi makanan merupakan bentuk reaksi responsif dari sistem kekebalan tubuh terhadap kandungan protein tertentu dalam makanan. Gejala alergi umumnya bereaksi sangat cepat dalam hitungan menit, ditandai dengan rasa gatal, ruam biduran, pembengkakan di area bibir atau kelopak mata, hingga sesak napas.

Anak-anak dan remaja dinilai jauh lebih rentan mengalami dampak fatal dari keracunan makanan karena cadangan cairan tubuh mereka yang lebih kecil serta sistem imun yang belum matang sepenuhnya. Data Pusat Analisis Kebijakan Obat dan Makanan BPOM menunjukkan bahwa sebagian besar kasus keracunan makanan di Indonesia didominasi oleh kelompok usia remaja.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....