“Cuma Bercanda”, tapi Siapa yang Tertawa?
- 30 Agt 2026 19:08 WIB
- Denpasar
RRI.CO.ID, Denpasar – “Cuma bercanda.” Kalimat ini sering muncul setelah seseorang melontarkan ejekan tentang penampilan, cara bicara, kesalahan, atau sesuatu yang dianggap lucu tentang orang lain, padahal bagi orang yang menjadi sasaran, candaan tersebut belum tentu terasa lucu.
Bercanda sebenarnya merupakan bagian dari hubungan sosial dan tidak selalu bermasalah ketika dilakukan oleh orang-orang yang sama-sama nyaman. Persoalannya muncul ketika candaan membuat seseorang merasa dipermalukan, direndahkan, atau tidak nyaman, sementara orang yang melontarkannya tetap menganggap reaksi tersebut sebagai sesuatu yang berlebihan.
UNICEF menjelaskan, salah satu cara sederhana untuk melihat batas antara bercanda dan perilaku yang menyakiti adalah dengan memperhatikan apakah seseorang sedang “tertawa bersama” atau justru “ditertawakan”. Jika seseorang sudah merasa terluka, meminta agar candaan dihentikan, tetapi perilaku tersebut tetap dilakukan, candaan itu dapat menjadi tanda adanya perundungan atau bullying.
Namun, tidak setiap candaan yang membuat orang tersinggung otomatis dapat disebut bullying. Dalam definisi yang digunakan lembaga kesehatan masyarakat dan pendidikan di Amerika Serikat, bullying umumnya melibatkan perilaku agresif yang tidak diinginkan, adanya ketimpangan kekuatan, serta perilaku yang terjadi berulang atau memiliki kemungkinan untuk terus berulang.
Bentuknya pun tidak selalu berupa kekerasan fisik. Ejekan, pemberian julukan yang merendahkan, penyebaran rumor, mempermalukan seseorang, atau sengaja mengucilkan seseorang dari kelompok termasuk perilaku yang dapat masuk dalam perundungan ketika memenuhi unsur-unsur tersebut.
Yang sering luput adalah dampak dari perkataan tersebut tidak selalu terlihat saat itu juga. UNICEF mencatat bahwa perundungan, termasuk yang terjadi secara daring, dapat membuat seseorang merasa malu, marah, kehilangan minat pada hal yang disukai, mengalami gangguan tidur, hingga mengalami keluhan fisik seperti sakit kepala atau sakit perut.
Karena itu, ukuran sebuah candaan sebaiknya tidak hanya dilihat dari seberapa lucu bagi orang yang mengucapkannya. Ketika seseorang sudah menunjukkan ketidaknyamanan, berhenti sejenak dan menghargai batas tersebut dapat menjadi bentuk sederhana untuk memastikan bahwa kita benar-benar sedang bercanda bersama, bukan menjadikan orang lain sebagai bahan tertawaan.
Sebelum mengatakan “cuma bercanda”, ada baiknya kita melihat kembali siapa yang ikut tertawa dan siapa yang hanya berusaha menyembunyikan rasa tidak nyaman. Sebab, candaan yang sehat seharusnya membuat orang tertawa bersama, bukan membuat seseorang belajar menertawakan dirinya sendiri agar terlihat baik-baik saja.
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....