Mengenal Fase Akhir Hayat Seseorang yang Mendekati Ajal

  • 05 Agt 2026 21:39 WIB
  •  Denpasar

RRI.CO.ID,Denpasar - Dilansir dari berbagai sumber, Secara medis, seseorang yang mengidap sakit parah dan sedang mendekati ajal akan mengalami penurunan fungsi organ tubuh secara bertahap. Proses transisi alami ini ditandai oleh melemahnya sistem biologis serta perubahan kesadaran yang signifikan. Memahami tanda-tanda fisik dan mental pada fase akhir hayat ini sangat penting bagi keluarga maupun tenaga medis agar dapat memberikan penanganan yang tepat dan penuh empati.

Salah satu indikator utama yang paling mudah dikenali adalah perubahan pola napas secara drastis. Mengutip panduan dari institusi perawatan paliatif, napas pasien akan menjadi tidak teratur, sangat lambat, dangkal, bahkan kerap diselingi jeda panjang tanpa hembusan napas. Kondisi ini sering kali disertai suara berat atau tersengal-sengal di tenggorokan akibat penumpukan lendir yang tidak bisa ditelan, sebuah fenomena yang secara medis dikenal sebagai death rattle.

Seiring dengan melambatnya fungsi jantung, sirkulasi darah di dalam tubuh juga akan melemah secara signifikan. Kemudian akibat terbatasnya aliran darah ke area permukaan kulit dan organ non-vital, tangan dan kaki pasien akan terasa dingin saat disentuh. Selain itu, kulit di bagian tubuh tertentu akan tampak memucat, belang-belang, atau berubah membiru (sianosis), terutama pada area kuku, ujung jari, serta bibir pasien.

Selanjutnya penurunan energi yang masif membuat pasien kehilangan nafsu makan dan minum secara total karena tubuh tidak lagi memerlukan asupan energi. Kondisi ini berjalan beriringan dengan penurunan fungsi otak yang memicu kebingungan mental, disorientasi waktu, hingga halusinasi seperti melihat orang terdekat yang sudah meninggal dunia. Di samping itu, fungsi ekskresi tubuh akan menurun tajam yang ditandai dengan produksi urine yang sangat sedikit, berwarna pekat, atau hilangnya kendali atas otot kandung kemih dan pencernaan.

Menghadapi fase kritis ini, fokus utama pendampingan bukan lagi pada tindakan kuratif untuk menyembuhkan, melainkan pada pemenuhan kenyamanan maksimal pasien. Keluarga disarankan untuk terus menjaga kelembapan bibir pasien menggunakan kain basah, memosisikan tubuhnya senyaman mungkin, serta mengontrol kebersihan saluran pembuangan. Kehadiran fisik yang tenang, bisikan doa yang lembut, serta sentuhan penuh kasih sayang menjadi dukungan psikologis paling berharga di detik-detik terakhir kehidupan seseorang.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....