Bed Rotting, Tren Rebahan Seharian yang Perlu Disikapi dengan Bijak

  • 30 Jul 2026 11:42 WIB
  •  Denpasar

RRI.CO.ID, Denpasar- Menghabiskan waktu berjam-jam di atas tempat tidur sambil menonton film, bermain media sosial, atau sekadar berdiam diri kini dikenal dengan istilah bed rotting. Meski namanya terdengar ekstrem, tren yang populer di media sosial ini sering dipandang sebagai cara untuk beristirahat dan memulihkan diri setelah menjalani aktivitas yang padat.

Bagi sebagian orang, beristirahat di tempat tidur setelah menjalani hari yang melelahkan memang dapat membantu tubuh dan pikiran merasa lebih rileks. Para ahli kesehatan mental menjelaskan bahwa memberi ruang bagi diri sendiri untuk beristirahat sesekali merupakan bagian dari self-care, terutama setelah mengalami tekanan atau kelelahan.

Manfaat tersebut umumnya dirasakan jika dilakukan dalam waktu yang wajar. Sebaliknya, menghabiskan terlalu banyak waktu di tempat tidur tanpa kebutuhan medis dapat mengganggu pola tidur, membuat tubuh terasa lebih lemas, dan menurunkan motivasi untuk beraktivitas.

Menurut Sleep Foundation, terlalu lama berada di tempat tidur dapat mengganggu kualitas tidur malam karena otak tidak lagi mengaitkan tempat tidur hanya dengan aktivitas tidur. Akibatnya, seseorang bisa lebih sulit tertidur atau merasa kurang segar meski telah beristirahat dalam waktu yang lama.

Dampaknya tidak hanya dirasakan secara fisik, tetapi juga dapat memengaruhi kesehatan mental. Sejumlah penelitian menunjukkan bahwa kurang bergerak dalam waktu lama berkaitan dengan meningkatnya gejala kecemasan maupun depresi, meski hubungan tersebut dipengaruhi pula oleh berbagai faktor seperti kondisi kesehatan, lingkungan, dan gaya hidup.

Para ahli juga membedakan antara istirahat yang sehat dengan kecenderungan menarik diri dari aktivitas sehari-hari. Jika seseorang berulang kali memilih berada di tempat tidur hingga mengabaikan pekerjaan, sekolah, waktu makan, atau interaksi sosial, kondisi tersebut sebaiknya tidak dianggap sebagai bentuk pemulihan semata.

Sebaliknya, pemulihan yang efektif tetap diimbangi dengan aktivitas ringan, seperti berjalan kaki, melakukan peregangan, atau memperoleh paparan sinar matahari pada pagi hari. Kebiasaan tersebut dapat membantu menjaga ritme sirkadian, memperbaiki suasana hati, sekaligus mendukung kualitas tidur pada malam hari.

Tidak ada yang salah dengan sesekali menikmati waktu untuk rebahan ketika tubuh memang membutuhkan istirahat. Namun, jika kebiasaan tersebut berlangsung terus-menerus hingga mengganggu aktivitas sehari-hari atau disertai perasaan sedih berkepanjangan, berkonsultasi dengan tenaga kesehatan atau profesional kesehatan jiwa dapat menjadi langkah yang tepat.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....