Uji Coba Robot Humanoid Berhasil Lakukan Operasi Bedah

  • 25 Jul 2026 21:41 WIB
  •  Denpasar

RRI.CO.ID, California - Dunia teknologi kesehatan memasuki babak baru setelah robot humanoid serbaguna berhasil membantu prosedur operasi invasif minimal pada hewan hidup. Keberhasilan tersebut dinilai membuka peluang lahirnya sistem bedah berbantuan robot yang lebih terjangkau dibandingkan perangkat medis khusus yang selama ini mendominasi ruang operasi.

Temuan tersebut dipublikasikan dalam studi di jurnal Nature pada 23 Juli 2026. Penelitian dilakukan oleh tim University of California San Diego (UC San Diego) menggunakan dua robot humanoid Unitree G1 buatan China dalam serangkaian uji praklinis.

Dalam penelitian itu, kedua robot digunakan untuk membantu prosedur pengangkatan kantong empedu (laparoskopi) pada babi hidup. Keberhasilan tersebut diklaim sebagai demonstrasi praklinis pertama yang memperlihatkan robot humanoid serbaguna mampu menyelesaikan prosedur bedah pada makhluk hidup.

Meski terlibat dalam operasi, robot tidak mengambil keputusan medis secara mandiri. Seluruh gerakan dikendalikan secara real time oleh dokter bedah melalui sistem teleoperasi yang menerjemahkan gerakan tangan operator menjadi gerakan robot dengan tingkat presisi tinggi.

Pada salah satu skenario, satu robot bekerja berdampingan dengan seorang ahli bedah manusia. Sementara pada percobaan lain, dua robot humanoid berkolaborasi untuk menyelesaikan prosedur operasi yang sama di bawah kendali operator dari jarak jauh.

Keunikan penelitian ini terletak pada jenis robot yang digunakan. Berbeda dengan sistem robot bedah konvensional yang memang dirancang khusus untuk dunia medis, Unitree G1 merupakan robot humanoid serbaguna yang sebelumnya dikembangkan untuk berbagai kebutuhan riset dan pengembangan teknologi.

Penulis utama penelitian, Lucas Zekai Liang, menjelaskan bahwa tim memilih Unitree G1 karena merupakan salah satu robot humanoid komersial yang mudah diperoleh ketika penelitian dimulai. Menurutnya, fokus riset bukan pada merek robot tertentu, melainkan membuktikan bahwa platform humanoid dapat dimanfaatkan untuk mendukung prosedur bedah modern.

Selama ini, operasi berbantuan robot identik dengan sistem khusus seperti da Vinci Surgical System yang telah digunakan di berbagai rumah sakit dunia. Robot tersebut menawarkan tingkat presisi tinggi, visualisasi tiga dimensi, serta kontrol instrumen yang lebih stabil dibandingkan operasi laparoskopi konvensional, namun biaya pengadaan dan pemeliharaannya relatif sangat mahal.

Dibandingkan robot bedah khusus yang harganya dapat melebihi 1 juta dollar AS, Unitree G1 dipasarkan sekitar 13.500 dollar AS. Perbedaan harga yang sangat besar tersebut memunculkan harapan bahwa teknologi robot bedah di masa depan dapat diakses oleh lebih banyak rumah sakit, termasuk fasilitas kesehatan dengan anggaran yang lebih terbatas.

Industri robot bedah China sendiri menunjukkan pertumbuhan yang pesat. Data Administrasi Umum Bea Cukai China mencatat ekspor robot bedah negara tersebut pada paruh pertama 2026 mencapai sekitar 480 juta yuan, meningkat lebih dari tiga kali lipat dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya.

Selain itu, jumlah negara tujuan ekspor robot bedah buatan China juga meningkat dari 23 menjadi 49 pasar. Peningkatan tersebut mencerminkan semakin besarnya minat global terhadap teknologi robot medis, seiring kebutuhan layanan kesehatan yang lebih presisi, efisien, dan mampu mendukung prosedur bedah dengan tingkat invasif yang lebih rendah.

⁠⁠⁠⁠⁠⁠⁠

Meski hasil penelitian ini menjanjikan, penggunaan robot humanoid dalam operasi manusia masih memerlukan tahapan pengujian lanjutan sebelum dapat diterapkan secara luas di rumah sakit. Para peneliti menilai keberhasilan pada tahap praklinis menjadi landasan penting untuk mengembangkan robot humanoid yang tidak hanya fleksibel, tetapi juga memenuhi standar keselamatan dan keandalan yang disyaratkan dalam praktik medis.

google-preference
Kata Kunci / Tags

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....