Benarkah Terlalu Sering Beradaptasi Bisa Membuat Kelelahan?
- 30 Jun 2026 14:14 WIB
- Denpasar
RRI.CO.ID, Denpasar – Di banyak tempat kerja, pergantian pimpinan menjadi hal yang lumrah. Bersamaan dengan itu, arah kerja, target, hingga prioritas organisasi pun sering ikut berubah. Akibatnya, karyawan harus kembali beradaptasi, meski belum lama menyesuaikan diri dengan sistem sebelumnya.
Bagi sebagian orang, perubahan seperti ini memang menantang. Namun jika terjadi berulang dalam waktu singkat, rasa lelah yang muncul bukan sekadar karena banyaknya pekerjaan. Ada energi mental yang terus terkuras untuk memahami cara kerja, ekspektasi, dan kebijakan baru.
Dalam psikologi organisasi, kondisi ini dikenal sebagai change fatigue atau kelelahan akibat terlalu banyak perubahan. Penelitian menunjukkan bahwa kondisi ini muncul ketika karyawan merasa perubahan organisasi berlangsung terlalu sering atau terasa berlebihan, sehingga mereka mulai kehilangan energi untuk terus menyesuaikan diri.
Gejalanya tidak selalu terlihat jelas. Seseorang mungkin masih datang bekerja seperti biasa, tetapi mulai sulit berkonsentrasi, kehilangan motivasi, atau enggan memberikan ide baru. Bahkan, muncul pikiran, "Nanti juga berubah lagi, buat apa terlalu semangat?"
Penelitian oleh Valentin Linnenborn dan tim pada 2025 juga menemukan bahwa change fatigue dapat mengurangi pemenuhan tiga kebutuhan psikologis dasar seseorang, yaitu merasa memiliki kendali (autonomy), merasa mampu (competence), dan merasa terhubung dengan orang lain (relatedness). Ketika ketiga hal ini menurun, seseorang cenderung kehilangan inisiatif dan keterlibatan dalam pekerjaannya.
Artinya, kemampuan beradaptasi sebenarnya bukan tanpa batas. Setiap perubahan membutuhkan perhatian, waktu, dan energi mental. Jika perubahan datang terus-menerus tanpa memberi kesempatan bagi karyawan untuk merasa stabil, kapasitas adaptasi perlahan akan menurun.
Bukan berarti organisasi harus menghindari perubahan. Perubahan tetap diperlukan agar organisasi berkembang. Namun, perubahan yang disertai komunikasi yang jelas, transisi yang terencana, dan pelibatan karyawan akan lebih mudah diterima dibanding perubahan yang datang secara tiba-tiba. Penelitian juga menunjukkan bahwa kepemimpinan yang empatik dan komunikasi yang baik dapat membantu mengurangi dampak change fatigue.
Pada akhirnya, menjadi adaptif memang merupakan keterampilan penting di dunia kerja modern. Namun, penting juga untuk menyadari bahwa setiap orang memiliki kapasitas adaptasi yang berbeda. Bukan karena tidak mau berubah, tetapi karena perubahan yang datang tanpa jeda juga memiliki biaya psikologis yang perlu diperhatikan.
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....