Modifikasi Ruang: Teknik Budidaya Saffron yang Kini jadi Rempah Termahal di Dunia
- 29 Jun 2026 15:31 WIB
- Denpasar
RRI.CO.ID., Denpasar - Dilansir dari laman resmi halodoc.com, Penggunaan saffron telah dilakukan sejak ribuan tahun lalu dalam pengobatan tradisional maupun kuliner. Tanaman ini tumbuh subur di wilayah dengan paparan sinar matahari tinggi seperti Iran, India, dan Yunani. Selain memberikan aroma dan warna pada makanan, saffron sering dikonsumsi sebagai suplemen untuk mendukung kesehatan mental dan fisik.
Saffron adalah rempah berbentuk benang halus berwarna merah yang berasal dari bunga Crocus sativus. Rempah ini dikenal sebagai salah satu bumbu dapur termahal di dunia karena proses pemanenannya dilakukan secara manual. Saffron mengandung senyawa aktif seperti crocin, crocetin, picrocrocin, dan safranal yang memiliki sifat antioksidan tinggi.
Kandungan nutrisi di dalam saffron mencakup karbohidrat, protein, lemak, dan serat. Rempah ini juga kaya akan vitamin A, vitamin C, serta mineral penting seperti zat besi, magnesium, dan kalium. Senyawa antioksidan dalam saffron berperan dalam melindungi sel-sel tubuh dari kerusakan akibat radikal bebas dan stres oksidatif.
Berdasarkan informasi yanh dikutip dari akun instagram @infarm.id, Di daerah yang iklimnya kurang sesuai, sebagian petani menggunakan ruang berpendingin (cold room) yang dilengkapi pengaturan suhu, kelembapan, dan pencahayaan untuk membantu umbi saffron melewati fase dormansi hingga siap berbunga. Sekilas memang terlihat seperti kulkas, tetapi sebenarnya merupakan ruang budidaya yang telah dimodifikasi.
Teknik ini membantu menciptakan kondisi yang menyerupai habitat asli saffron, sehingga tanaman tetap dapat tumbuh dan berbunga meski berada di wilayah dengan iklim yang berbeda.
Menariknya, bunga saffron hanya menghasilkan tiga helai putik merah yang dipanen secara manual. Itulah salah satu alasan mengapa saffron dikenal sebagai rempah dengan harga paling mahal di dunia.
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....