Pentingnya Manajemen Tingkah Laku dan Peran Orang Tua saat Anak Cabut Gigi
- 13 Jun 2026 11:13 WIB
- Denpasar
RRI.CO.ID, Denpasar - Menghadapi anak yang harus melakukan perawatan gigi, terutama pencabutan gigi, sering kali menjadi tantangan tersendiri bagi para orang tua. Berbeda dengan pasien dewasa yang cenderung kooperatif, pasien anak-anak membutuhkan pendekatan khusus karena kondisi psikologis mereka yang masih berkembang.
Dalam dunia kedokteran gigi, terdapat percabangan spesialisasi yang secara khusus mendalami hal ini, salah satunya adalah kedokteran gigi anak. Fokus utama dari spesialisasi ini tidak hanya pada tindakan medis, melainkan juga pada behavior management atau manajemen tingkah laku.
"Anak-anak mempunyai kondisi psikologis yang berbeda dengan orang dewasa. Mungkin perawatannya sama, tetapi manajemen untuk anaknya sendiri itu sangat amat berbeda," ujar Dr. drg. Eko Sri Yuni Astuti, Sp. KGA, spesialis kedokteran gigi anak kepada RRI pada Jumat 29 Mei 2026.
Menurutnya, pasien dewasa umumnya langsung menyampaikan keluhan dan bersikap tenang saat tindakan dilakukan. Sebaliknya, anak-anak sering kali enggan membuka mulut saat pertama kali datang ke klinik, bahkan beberapa di antaranya menunjukkan penolakan yang ekstrem.
Melalui manajemen tingkah laku yang tepat, dokter gigi anak berusaha mengarahkan pasien yang tadinya tidak kooperatif menjadi kooperatif agar tujuan perawatan dapat tercapai. Tantangan yang kerap dihadapi orang tua adalah ketika gigi susu anak mulai goyang secara bergantian dan tiba waktunya untuk dicabut.
Jika anak sempat mengalami pengalaman kurang menyenangkan atau trauma pada pencabutan gigi sebelumnya, mereka cenderung akan menghindari kunjungan berikutnya. Tidak jarang, anak memilih berbohong dan mengatakan giginya belum goyang karena merasa takut.
Untuk mengatasi hal tersebut dan membangun sikap kooperatif pada anak, persiapan dari pihak orang tua sejak dini memegang peranan yang sangat krusial.
Mengenalkan Dokter Gigi Sejak Dini
Orang tua disarankan mengajak anak ke dokter gigi sejak awal, bahkan sebelum ada keluhan berat. Kunjungan awal ini idealnya hanya sebatas pemeriksaan ringan atau edukasi mengenai cara menyikat gigi yang baik dan benar, seperti menyikat gigi pagi setelah makan dan malam sebelum tidur. Hal ini bertujuan agar anak terbiasa dengan atmosfer klinik dan memandang dokter gigi sebagai sosok yang ramah.
Hindari Menakut-nakuti Anak
Salah satu kebiasaan yang perlu dihentikan oleh orang tua adalah menggunakan profesi dokter gigi atau tindakan medis sebagai ancaman saat anak bersikap nakal. Kalimat menakut-nakuti seperti ancaman akan disuntik justru menanamkan persepsi buruk yang memicu trauma psikologis pada anak.
Komunikasi yang Logis dan Edukatif
Ketika memasuki fase perawatan yang lebih lanjut seperti pencabutan gigi, orang tua harus memberikan motivasi melalui komunikasi yang logis. Berikan pemahaman kepada anak bahwa gigi susunya yang goyang perlu diambil agar memberikan ruang bagi tumbuhnya gigi dewasa yang lebih kuat dan rapi.
Dengan cara ini, anak-anak dapat melalui proses pencabutan gigi dengan nyaman tanpa trauma. Para orang tua dapat melakukan dukungan komunikasi yang positif secara konsisten di rumah serta dokter gigi juga melakukan manajemen tingkah laku yang sesuai dengan prosedur kepada pasien anak.
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....