Sering Telat Menstruasi? Waspadai Gejala PCOS

  • 28 Mei 2026 13:42 WIB
  •  Denpasar

RRI.CO.ID, Denpasar - Siklus menstruasi yang tidak teratur sering kali diabaikan dan hanya dianggap sebagai efek kelelahan atau stres biasa. Padahal, keterlambatan menstruasi yang terjadi terus-menerus merupakan alarm utama dari tubuh untuk mewaspadai adanya gangguan hormonal yang disebut PCOS (Polycystic Ovary Syndrome).

PCOS terjadi karena tubuh kelebihan hormon androgen (hormon maskulin) yang mengganggu pelepasan sel telur. Menurut panduan klinis The American College of Obstetricians and Gynecologists (ACOG), disfungsi ovulasi pada penderita PCOS umumnya bermanifestasi dalam bentuk menstruasi yang sangat jarang (oligomenore) atau tidak menstruasi sama sekali (amenore), akibat tidak adanya lonjakan hormon untuk meluruhkan dinding rahim secara normal.

Akibat gagal berkembang dan tidak dilepaskan menuju rahim, sel-sel telur tersebut terjebak di dalam indung telur. Sel telur yang terjebak ini membentuk kantung cairan kecil dalam jumlah banyak. Saat diperiksa melalui USG oleh dokter kandungan, ovarium penderita akan memberikan gambaran khas yang terlihat menyerupai untaian kalung mutiara.

Selain masalah siklus haid, tingginya hormon androgen juga memicu perubahan fisik yang mengganggu penampilan. Penderita PCOS biasanya mengeluhkan munculnya jerawat parah yang meradang, rambut rontok, hingga hirsutisme, yaitu tumbuhnya rambut lebat di area wajah (seperti kumis dan dagu), dada, atau perut.

Gangguan ini juga berkaitan erat dengan masalah metabolik berupa resistensi insulin, di mana tubuh kesulitan mengolah gula darah. Kondisi ini memicu tubuh memproduksi lebih banyak insulin yang mempercepat penumpukan lemak. Akibatnya, berat badan penderita sering kali melonjak drastis dan sangat sulit untuk diturunkan.

Kesadaran untuk mendeteksi gejala ini sejak dini sangatlah penting. Jika Anda sering mengalami telat menstruasi selama beberapa siklus berturut-turut, segeralah periksakan diri ke dokter kandungan (Sp.OG). Penanganan dini melalui perbaikan gaya hidup dan terapi yang tepat dapat mengontrol hormon serta mencegah risiko diabetes di masa depan.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....