Mengenal Istilah ADHD untuk Orang Dewasa yang Sulit Fokus

  • 24 Mei 2026 14:36 WIB
  •  Denpasar

RRI.CO.ID - Banyak orang dewasa yang merasa hidupnya berantakan hanya karena sering lupa, sulit fokus, atau hobi menunda pekerjaan hingga menit terakhir. Sering kali, label "pemalas" atau "tidak bertanggung jawab" disematkan oleh lingkungan sekitar, bahkan oleh diri sendiri.

Padahal, bisa jadi itu bukan masalah karakter, melainkan tanda dari ADHD atau attention deficit hyperactivity disorder yang selama ini tersembunyi di bawah radar kesadaran kita. Berbeda dengan anak-anak yang biasanya menunjukkan gejala fisik yang tidak bisa diam, ADHD pada orang dewasa lebih sering menyerang sisi kognitif.

Gejalanya muncul dalam bentuk pikiran yang terus balapan, kesulitan mengatur skala prioritas, hingga rasa bosan yang ekstrem terhadap tugas-tugas rutin. Kondisi ini membuat aktivitas sederhana seperti membalas pesan atau merapikan jadwal kerja terasa seperti mendaki gunung yang sangat melelahkan.

Dikutip dari dr. Kristiana Siste, Sp.KJ(K), dokter spesialis kedokteran jiwa dari RSUPN Dr. Cipto Mangunkusumo (RSCM), ADHD pada orang dewasa sering kali terabaikan karena gejalanya tertutup oleh masalah lain seperti stres atau kelelahan kerja. Padahal, ini adalah gangguan neurobiologis di mana otak mengalami kesulitan dalam mengatur dopamin, yang berfungsi sebagai rem dan pedal gas untuk perhatian kita.

Jika dibiarkan tanpa penanganan, kondisi ini bisa berdampak serius pada kesehatan mental. Rasa frustrasi karena terus-menerus gagal memenuhi ekspektasi pekerjaan atau sosial dapat memicu stres berat dan rasa rendah diri yang kronis.

Pengidap ADHD dewasa sering kali merasa mereka memiliki potensi besar, namun seolah-olah ada "tembok transparan" yang menghalangi mereka untuk mengeksekusi rencana-rencana tersebut dengan konsisten. Memahami bahwa ADHD adalah masalah fungsi saraf otak, bukan sekadar kurang niat, adalah kunci untuk mulai bangkit.

Dengan bantuan profesional dan strategi pengelolaan diri yang tepat, hambatan tersebut bisa dikendalikan. Mengenali cara kerja otak sendiri bukan hanya membantu kita menjadi lebih produktif, tapi juga memberikan ruang untuk lebih menghargai diri sendiri di tengah segala keterbatasan yang ada.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....