Menepis Stigma 'Man Flu': Mengapa Demam Membuat Pria Terlihat Lebih Lemah?
- 19 Mei 2026 14:24 WIB
- Denpasar
RRI.CO.ID, Denpasar - Di tengah masyarakat, sering kali muncul seloroh atau stigma bahwa pria cenderung bersikap "manja" atau terlihat sangat lemah ketika terserang penyakit ringan seperti demam, flu, atau batuk. Fenomena ini bahkan memunculkan istilah populer di dunia barat, yaitu "Man Flu", sebuah sindrom di mana seorang pria dianggap melebih-lebihkan gejala sakit yang dialaminya jika dibandingkan dengan wanita.
Stigma ini sering kali memicu anggapan bahwa pria memiliki mental yang lebih rapuh saat menghadapi kondisi fisik yang tidak prima. Namun, benarkah demikian? Pola pikir sosiologis dan riset medis terbaru justru menunjukkan hal yang sebaliknya: ada alasan biologis yang nyata di balik mengapa tubuh pria bereaksi lebih hebat saat demam.
Sebuah studi komprehensif yang dipublikasikan dalam jurnal medis The BMJ (British Medical Journal) oleh Dr. Kyle Sue, seorang profesor klinis dari Memorial University of Newfoundland, Kanada, membedah fenomena ini secara ilmiah. Dr. Sue menemukan bahwa pria secara harfiah memiliki respons imun yang lebih lemah terhadap virus pernapasan umum dan demam dibandingkan wanita.
Penyebab utamanya terletak pada hormon reproduksi masing-masing gender:
Hormon Estrogen sebagai Pelindung: Hormon estrogen pada wanita memiliki sifat imunoprotektif. Estrogen membantu meningkatkan efektivitas sel-sel imun untuk melawan virus secara cepat. Berdasarkan riset dalam Jurnal American Journal of Physiology, kadar estrogen yang tinggi pada wanita membantu menekan replikasi virus di dalam tubuh.
Hormon Testosteron yang Menekan Imun: Kebalikannya, hormon testosteron yang dominan pada pria justru memiliki efek imunosupresif atau menekan kerja sistem kekebalan tubuh. Ketika pria terserang infeksi, tingginya testosteron membuat respons imun tubuh lebih lambat memproduksi antibodi, sehingga gejala yang dirasakan seperti demam tinggi, nyeri sendi, dan lemas menjadi lebih berat dan berlangsung lebih lama.
Selain faktor hormonal, psikolog sosial dari University of Westminster, Dr. Damien Ridge, dalam bukunya yang membahas tentang kesehatan mental dan fisik pria, menjelaskan adanya faktor sosiologis. Sejak kecil, pria dikondisikan oleh lingkungan untuk selalu tampil kuat, tangguh, dan tidak boleh mengeluh (stigma toxic masculinity).
Ketika seorang pria akhirnya tumbang akibat demam tinggi, itu adalah titik di mana tubuhnya benar-benar sudah tidak mampu lagi menahan beban infeksi. Perubahan drastis dari kondisi "harus selalu kuat" menjadi "lumpuh di atas tempat tidur" inilah yang secara psikologis memunculkan persepsi di mata orang sekitar bahwa pria tersebut tampak sangat lemah atau manja.
Para pakar kesehatan mengingatkan bahwa menganggap remeh gejala demam pada pria dengan dalih "hanya manja" dapat berbahaya. Stigma ini membuat banyak pria enggan memeriksakan diri ke dokter atau meminum obat sejak dini karena takut dianggap lemah, yang justru berisiko memperburuk kondisi infeksi di dalam tubuh.
Memahami bahwa perbedaan reaksi tubuh saat demam adalah murni masalah fisiologis dan hormonal dapat membantu masyarakat untuk lebih objektif. Pada akhirnya, demam adalah sinyal bahwa tubuh sedang berperang melawan penyakit, dan setiap tubuh baik pria maupun Wanita berhak mendapatkan penanganan dan waktu istirahat yang sama tanpa harus dibayangi oleh stigma sosial.
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....