Cegah Social Jetlag, Konsistensi Jam Tidur Jadi Kunci Kebugaran Tubuh

  • 16 Mei 2026 21:07 WIB
  •  Denpasar

RRI.CO.ID, Denpasar - Kebiasaan memanjakan diri dengan tidur belasan jam di akhir pekan untuk membayar "utang tidur" hari kerja ternyata berdampak buruk bagi kesehatan. Alih-alih membuat tubuh bugar saat Senin pagi, pola tidur yang tidak konsisten ini justru memicu fenomena medis yang disebut social jetlag.

Istilah social jetlag pertama kali diperkenalkan oleh Prof. Till Roenneberg, seorang ahli kronobiologi dari Ludwig Maximilians University Munich, Jerman. Dalam studinya, Roenneberg memaparkan bahwa social jetlag adalah kondisi terjadinya pergeseran besar antara jam biologis tubuh (circadian rhythm) dengan jadwal aktivitas sosial seseorang, khususnya akibat perbedaan pola tidur antara hari kerja dan hari libur.

Secara fisiologis, tubuh manusia dikendalikan oleh jam internal yang mengatur kapan harus terjaga dan kapan harus beristirahat. Ketika seseorang terbiasa bangun jam 6 pagi di hari kerja, lalu tiba-tiba mengubah polanya dengan bangun jam 10 pagi di akhir pekan, jam biologis tubuh akan mengalami disorientasi. Dampaknya serupa dengan efek jetlag yang dialami seseorang pasca-penerbangan melintasi zona waktu yang berbeda.

Berdasarkan riset yang dipublikasikan dalam jurnal ilmiah Sleep, kebiasaan menggeser jam tidur ini tidak hanya memicu rasa lelah kronis, tetapi juga berdampak buruk bagi kesehatan jangka panjang. Ketidaksesuaian kronis pada ritme sirkadian ini terbukti meningkatkan risiko gangguan metabolik, obesitas, hingga penurunan performa kognitif otak di tempat kerja.

Pakar kesehatan vokal dan kedokteran jiwa menambahkan tidur tidak bisa dianalogikan seperti sistem perbankan, di mana kita bisa "berutang" di hari kerja lalu "melunasinya" sekaligus di akhir pekan. Tidur yang berkualitas diukur dari konsistensi waktu bangun dan tidur, bukan sekadar durasi akumulatif.

Untuk mengatasi dampak buruk social jetlag, strategi menjaga sleep hygiene atau higienitas tidur sangat direkomendasikan. Langkah utamanya adalah dengan menjaga jadwal tidur dan bangun yang konsisten setiap hari, termasuk di hari libur, dengan toleransi pergeseran waktu tidak lebih dari 60 menit.

Jika memang merasa sangat kelelahan di akhir pekan, solusi terbaik yang disarankan bukanlah memperpanjang tidur di pagi hari, melainkan memanfaatkan tidur siang singkat (power nap) selama 20 hingga 30 menit. Langkah ini efektif untuk memulihkan energi tanpa merusak tatanan jam biologis utama tubuh.

Membangun konsistensi waktu tidur mungkin menantang di tengah dinamisnya gaya hidup modern. Namun, menyelaraskan kembali jam tubuh dengan aktivitas harian adalah investasi paling murah untuk mendapatkan kebugaran yang nyata dan kesehatan mental yang stabil setiap harinya.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....