Bukan Lagi PCOS, Kenali Istilah Baru PMOS
- 14 Mei 2026 09:39 WIB
- Denpasar
Poin Utama
- Awalnya dikenal dengan sebagai Polycystic Ovary Syndrome (PCOS), kini nama tersebut diubah menjadi Polyendocrine Metabolic Ovarian Syndrome (PMOS) mulai tanggal 12 Mei 2026.
- Kondisi ini menggambarkan adanya gangguan hormon yang sering terjadi pada wanita usia subur atau reproduktif. Kondisi ovarium didiagnosis memproduksi hormon androgen atau hormon laki-laki secara berlebihan.
- Penggunaan nama PCOS selama terlalu terpaku pada pemeriksaan ovarium, sehingga gejala sistemik seperti gangguan hormon dan metabolisme lainnya tidak tertangani dengan baik.
RRI.CO.ID, Denpasar – Dunia medis internasional sepakat melakukan perubahan nama kondisi kesehatan yang sebelumnya dikenal sebagai Polycystic Ovary Syndrome (PCOS) menjadi Polyendocrine Metabolic Ovarian Syndrome (PMOS) mulai tanggal 12 Mei 2026. Apa itu Polycystic Ovary Syndrome (PCOS)? Kondisi ini menggambarkan adanya gangguan hormon yang sering terjadi pada wanita usia subur atau reproduktif.
Kondisi ovarium didiagnosis memproduksi hormon androgen atau hormon laki-laki secara berlebihan. Selain itu, PCOS juga dapat disebabkan oleh faktor genetic yang ada dalam keluarga.
Kini, istilah PCOS telah diganti dengan PMOS ini menyebabkan ketidakseimbangan hormon yang memicu siklus menstruasi tidak teratur, kesulitan hamil, hingga masalah kulit seperti jerawat. Melansir dari laman endocrine.org, nama baru PMOS ini merupakan hasil kolaborasi global selama 14 tahun yang melibatkan lebih dari 50 organisasi pasien dan profesional.
Nama PMOS dipilih karena lebih akurat secara ilmiah dalam menggambarkan kompleksitas gangguan hormon dan metabolisme yang dialami pasien. Langkah besar ini diambil untuk mengakhiri kesalahpahaman selama puluhan tahun yang menganggap kondisi ini hanya berkaitan dengan kista pada ovarium.
Perubahan nama ini diharapkan bisa meningkatkan kualitas perawatan bagi lebih dari 170 juta perempuan di seluruh dunia yang mengalami PMOS. Para ahli menekankan bahwa istilah "kista" pada nama lama sering kali membingungkan, karena pada kenyataannya tidak ada peningkatan kista abnormal pada ovarium penderita kondisi PMOS.
Berdasarkan laporan dalam European Medical Journal (EMJ) Reviews, istilah PMOS kini lebih menonjolkan aspek "poliendokrin" dan "kondisi metabolik" yang selama ini sering terabaikan. Kondisi ini tidak hanya persoalan reproduksi, melainkan terjadi gangguan sistem endokrin jangka panjang yang memengaruhi hormon tubuh.
Dampaknya pun sangat luas, mulai dari kenaikan berat badan, gangguan kesehatan mental, masalah kulit, hingga risiko kesehatan sistem reproduksi secara keseluruhan. Pakar endokrinologi dari Monash University, Profesor Helena Teede, mengutip melalui laman endocrine.org, menyatakan bahwa penggunaan nama PCOS selama ini menyebabkan adanya keterlambatan diagnosis dan pengobatan yang tidak memadai.
Banyak tenaga medis dan pasien yang terlalu terpaku pada pemeriksaan ovarium, sehingga gejala sistemik lainnya tidak tertangani dengan baik harapannya, dengan nama PMOS, fokus perawatan akan bergeser pada manajemen hormon dan kesehatan metabolik pasien secara menyeluruh. Data menunjukkan bahwa 1 dari 8 perempuan di seluruh dunia terdampak oleh kondisi ini.
Dengan tingginya prevalensi tersebut, para peneliti dari 56 organisasi internasional berupaya memastikan nama PMOS dapat diterima secara budaya di berbagai negara. Proses transisi menuju nama baru ini akan dilakukan secara bertahap selama tiga tahun ke depan.
Kampanye edukasi internasional akan segera digencarkan untuk menyasar para profesional kesehatan, pemerintah, dan peneliti di seluruh dunia. Targetnya, istilah PMOS dapat diimplementasikan sepenuhnya dalam pembaruan panduan skala internasional pada tahun 2028 mendatang.
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....