Mengapa Seseorang Menjadi "Ngeyel" atau Keras Kepala dari Sisi Psikologis?

  • 12 Mei 2026 22:41 WIB
  •  Denpasar

RRI.CO.ID, Denpasar - Dalam interaksi sosial sehari-hari, kita sering menjumpai individu yang cenderung sulit menerima masukan atau tetap teguh pada pendapatnya meskipun argumen lawan bicara didukung oleh fakta yang kuat. Perilaku yang dalam bahasa populer disebut "ngeyel" ini sering kali memicu ketegangan dalam berkomunikasi, baik di lingkungan profesional maupun personal.

Namun, di balik sikap keras kepala tersebut, terdapat mekanisme psikologis yang kompleks. Menghadapi orang yang "ngeyel" bukan sekadar menghadapi perbedaan pendapat, melainkan memahami bagaimana ego dan sistem pertahanan diri seseorang bekerja.

Psikolog klinis menjelaskan salah satu pemicu utama sikap ngeyel adalah fenomena Disonansi Kognitif. Kondisi ini terjadi ketika seseorang merasa tidak nyaman saat dihadapkan pada informasi baru yang bertentangan dengan keyakinan atau nilai yang sudah ia pegang lama.

Untuk menghilangkan rasa tidak nyaman tersebut, otak secara otomatis menolak fakta baru tersebut guna menjaga "keamanan" egonya. Selain itu, sosiolog dari Universitas Indonesia, Prof. Dr. Paulus Wirutomo, sering menekankan pentingnya budaya komunikasi yang sehat.

Menurut perspektif sosiologis, sikap keras kepala terkadang muncul sebagai bentuk upaya seseorang untuk mempertahankan dominasi atau harga diri dalam suatu kelompok sosial. Ketika seseorang merasa posisinya terancam secara intelektual, "ngeyel" menjadi tameng perlindungan diri.

Berikut beberapa faktor psikologis yang mendasari mengapa seseorang sulit menerima kebenaran dari orang lain

1. Confirmation Bias (Bias Konfirmasi)

Kecenderungan manusia untuk hanya mencari atau menyerap informasi yang mendukung pendapatnya saja. Informasi yang bertentangan akan dianggap sebagai gangguan atau bahkan serangan pribadi.

2. Kebutuhan akan Kendali

Bagi sebagian individu, mengakui kesalahan berarti kehilangan kendali atau otoritas. Dengan tetap bersikeras, mereka merasa tetap memegang kendali atas situasi tersebut.

3. Kurangnya Empati Kognitif

Kemampuan untuk melihat sudut pandang orang lain sangat dipengaruhi oleh kematangan emosional. Individu yang "ngeyel" sering kali memiliki hambatan dalam memproses cara berpikir orang lain yang berbeda dengan dirinya.

Untuk menghadapi situasi ini, para pakar menyarankan agar komunikasi dilakukan tanpa nada menghakimi. Mengedepankan pertanyaan reflektif daripada pernyataan konfrontatif dapat membantu menurunkan tensi pertahanan diri lawan bicara.

Memahami bahwa sikap "ngeyel" sering kali bukan tentang substansi masalah, melainkan tentang pertahanan emosional, dapat membantu kita lebih bijak dalam merespons. Pada akhirnya, komunikasi yang efektif bukan tentang siapa yang menang atau kalah, melainkan tentang bagaimana sebuah pemahaman bersama dapat tercapai tanpa harus melukai harga diri masing-masing pihak.

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru

Memuat berita terbaru.....