Mengenal Doomscrolling: Kecanduan Berita Buruk di Balik Layar Ponsel

  • 12 Mei 2026 20:04 WIB
  •  Denpasar

RRI.CO.ID, Denpasar - Pernahkah Anda menghabiskan waktu berjam-jam di media sosial hanya untuk membaca berita negatif atau tragedi yang sedang terjadi? Fenomena yang dikenal dengan istilah doomscrolling ini kini menjadi perhatian serius di tengah pesatnya arus informasi digital.

Doomscrolling adalah kebiasaan seseorang untuk terus menggulir layar ponsel guna mencari informasi yang mencemaskan, meski hal tersebut memicu perasaan takut. Secara psikologis, manusia memiliki kecenderungan alami untuk memperhatikan ancaman yang disebut dengan negativity bias.

Para pakar psikologi menjelaskan bahwa otak manusia berevolusi untuk memprioritaskan informasi buruk sebagai bentuk mekanisme bertahan hidup. Namun, di era digital, paparan berita buruk yang tanpa henti justru membuat otak terjebak dalam siklus kecemasan yang kronis.

Paparan informasi negatif secara terus-menerus dapat memicu pelepasan hormon stres seperti kortisol dan adrenalin ke dalam tubuh. Kondisi ini jika dibiarkan dapat berdampak pada gangguan tidur, penurunan konsentrasi, hingga risiko depresi yang lebih tinggi.

Data dari University of Florida menunjukkan bahwa algoritma media sosial sering kali memperparah kondisi ini dengan menyajikan konten serupa secara berulang. Akibatnya, pengguna merasa sulit untuk berhenti meski mereka menyadari bahwa informasi tersebut membuat perasaan menjadi tidak nyaman.

Di Indonesia, fenomena ini semakin terasa terutama saat terjadi peristiwa bencana alam atau isu sosial yang memicu perdebatan panas. Masyarakat cenderung merasa harus terus memantau situasi tersebut karena takut ketinggalan informasi penting atau Fear of Missing Out (FOMO).

Untuk mengatasi kebiasaan ini, para ahli menyarankan masyarakat untuk mulai menetapkan batasan waktu penggunaan media sosial setiap hari. Mematikan notifikasi berita yang bersifat sensasional juga efektif untuk mengurangi dorongan melakukan pengecekan ponsel secara impulsif.

Selain itu, mengalihkan perhatian ke aktivitas fisik atau hobi yang menyenangkan dapat membantu menyeimbangkan kembali kesehatan mental. Membaca buku atau berinteraksi langsung dengan orang sekitar terbukti lebih menenangkan saraf dibandingkan terjebak dalam arus informasi digital.

Penting bagi kita untuk menyadari bahwa tidak semua informasi harus dikonsumsi dalam satu waktu secara bersamaan. Menjaga kewarasan digital di tengah banjir informasi adalah langkah utama untuk tetap produktif dan tenang dalam menjalani kehidupan sehari-hari.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....