Self-Diagnose di Era Digital: ketika Remaja Menilai Kesehatan Mental Sendiri

  • 13 Apr 2026 16:03 WIB
  •  Denpasar

RRI.CO.ID, Denpasar — Kemudahan akses informasi di era digital membawa banyak manfaat, termasuk meningkatnya kesadaran akan kesehatan mental. Namun di balik itu, muncul fenomena baru di kalangan remaja, yaitu kecenderungan melakukan self-diagnose atau mendiagnosis kondisi diri sendiri tanpa pendampingan tenaga profesional.

Dalam acara Rahina Ayu pada Kamis, 9 April 2026, isu ini menjadi sorotan ketika remaja kini semakin akrab dengan internet, media sosial, hingga kecerdasan buatan (AI) untuk mencari jawaban atas kondisi emosional yang mereka alami. Sayangnya, tidak semua informasi yang diperoleh dipahami secara utuh.

Residen psikiatri Fakultas Kedokteran Universitas Udayana, dr. Saiful Bahri, menjelaskan bahwa istilah “depresi” kerap disalahartikan oleh remaja. Banyak yang menganggap perasaan sedih sesaat sebagai gangguan depresi, padahal secara medis keduanya memiliki perbedaan yang signifikan.

“Depresi itu memang bagian dari emosi manusia, sama seperti rasa senang. Tapi menjadi gangguan ketika gejalanya berlangsung cukup lama, minimal dua minggu, dan sudah mengganggu aktivitas sehari-hari,” jelasnya.

Fenomena self-diagnose muncul ketika remaja mencoba mencocokkan perasaan mereka dengan informasi yang ditemukan secara daring. Dalam banyak kasus, mereka menyimpulkan sendiri bahwa dirinya mengalami depresi hanya berdasarkan gejala yang dirasakan sesaat, seperti sedih karena masalah pertemanan atau hubungan.

Padahal, menurut para ahli, kondisi tersebut belum tentu termasuk gangguan depresi. Reaksi emosional terhadap stres, seperti putus hubungan atau tekanan akademik, merupakan hal yang wajar dan dapat dialami siapa saja.

“Yang menjadi kekhawatiran adalah ketika remaja langsung memberi label pada dirinya sendiri tanpa memahami kriteria yang sebenarnya. Ini bisa menimbulkan kesalahpahaman, bahkan memperburuk kondisi psikologis mereka,” tambah dr. Saiful.

Guru Besar Fakultas Kedokteran Universitas Udayana, , Prof. Dr. dr. Cok Bagus Jaya Lesmana, SpKJ(K), MARS, menambahkan bahwa remaja merupakan kelompok yang rentan karena berada dalam fase pencarian jati diri. Di tengah konflik batin yang mereka alami, kebutuhan untuk dipahami dan didengarkan menjadi sangat penting.

Namun, tidak semua remaja memiliki ruang aman untuk mengekspresikan perasaan. Banyak di antaranya memilih memendam masalah, atau mencari jawaban sendiri melalui internet. Kondisi ini diperparah dengan kebiasaan sebagian orang tua yang cenderung mengabaikan atau meremehkan emosi anak.

“Kalau kita tidak bertanya, mereka tidak akan bercerita. Akhirnya mereka mencari jawaban sendiri, termasuk dari media sosial atau AI, yang belum tentu sesuai dengan kondisi sebenarnya,” ujarnya.

Selain itu, perbedaan cara remaja mengekspresikan emosi juga menjadi tantangan. Mereka tidak selalu menunjukkan kesedihan secara langsung, melainkan melalui perubahan perilaku seperti mudah marah, menarik diri, atau kehilangan minat terhadap aktivitas yang biasa disukai.

Di sisi lain, kemajuan teknologi juga menghadirkan dilema. Informasi yang cepat dan mudah diakses memang membantu, namun tanpa pendampingan yang tepat, remaja berisiko salah memahami kondisi dirinya sendiri.

Para ahli menekankan pentingnya peran orang tua dalam membangun komunikasi yang terbuka dan aktif mengamati perubahan pada anak. Ketika gejala yang muncul berlangsung lama atau mengarah pada perilaku berisiko, langkah terbaik adalah berkonsultasi dengan tenaga profesional.

Fenomena self-diagnose menjadi pengingat bahwa literasi kesehatan mental tidak hanya soal akses informasi, tetapi juga pemahaman yang benar. Di tengah derasnya arus digital, remaja membutuhkan pendampingan agar tidak berjalan sendiri dalam menilai kesehatan mentalnya.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....