Mengapa Sunscreen Wajib Digunakan di Cuaca Mendung dan Dingin

  • 25 Feb 2026 08:22 WIB
  •  Denpasar

RRI.CO.ID, Denpasar - Sebuah kekeliruan umum yang sering terjadi adalah anggapan bahwa penggunaan tabir surya atau sunscreen hanya diperlukan saat cuaca panas terik. Faktanya, para pakar kesehatan kulit menegaskan bahwa suhu udara tidak memiliki korelasi langsung dengan intensitas radiasi ultraviolet (UV).

Di wilayah pegunungan yang dingin sekalipun, risiko kerusakan kulit tetap mengintai. Berdasarkan penjelasan dari Perhimpunan Dokter Spesialis Kulit dan Kelamin Indonesia (PERDOSKI), sinar matahari membawa dua jenis radiasi utama: UVA dan UVB.

UVB adalah penyebab kulit terbakar (sunburn) dan intensitasnya memang menurun saat cuaca mendung atau dingin. UVA, di sisi lain, tetap ada dengan intensitas yang sama sepanjang tahun, menembus awan tebal, bahkan menembus kaca jendela.

Sinar UVA inilah yang bertanggung jawab atas penuaan dini, kerutan, dan risiko kanker kulit. Jadi, meski kulit Anda terasa dingin, radiasi UVA tetap bekerja di bawah permukaan kulit.

Mengutip data dari Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG), di daerah dingin yang bersalju atau wilayah pegunungan dengan banyak bebatuan cerah, radiasi UV justru bisa berlipat ganda. Salju dapat memantulkan hingga delapan puluh persen radiasi UV kembali ke wajah, sementara air dan pasir juga memiliki efek pantulan yang tinggi.

Hal ini sering menyebabkan pendaki gunung mengalami luka bakar matahari yang parah meski suhu berada di bawah nol derajat. Penelitian dari Lembaga Riset Atmosfer menunjukkan bahwa pada ketinggian tertentu dengan suhu rendah, lapisan atmosfer justru lebih tipis.

Setiap kenaikan seribu meter dari permukaan laut, tingkat radiasi UV meningkat sekitar sepuluh hingga dua belas persen. Inilah alasan mengapa orang yang berada di daerah pegunungan (seperti di Dieng atau pegunungan di Papua) cenderung memiliki risiko terpapar radiasi lebih tinggi dibandingkan mereka yang di pesisir pantai.

Cuaca dingin cenderung membuat udara menjadi kering. Penggunaan sunscreen di tahun dua ribu dua puluh enam kini telah berevolusi; tidak hanya sebagai pelindung UV, tetapi juga sebagai pengunci kelembapan (moisturizer). Menurut Kementerian Kesehatan RI, menggunakan tabir surya di cuaca dingin membantu menjaga skin barrier dari iritasi akibat angin kencang dan udara kering yang sering disebut sebagai windburn.

Matahari tidak perlu terasa panas untuk bisa merusak kulit. Menjadikan sunscreen sebagai ritual hariantanpa memandang angka di thermometer adalah investasi kesehatan jangka panjang. Di tahun dua ribu dua puluh enam, kecantikan sejati dimulai dari perlindungan yang konsisten, baik di bawah terik khatulistiwa maupun di tengah dinginnya puncak gunung.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....