Waspada Duck Syndrome

  • 21 Feb 2026 14:40 WIB
  •  Denpasar

RRI.CO.ID - Di era digital, berbagai istilah populer muncul untuk menggambarkan pengalaman sosial dan psikologis, seperti duck syndrome, FOMO (Fear of Missing Out), ghosting, dan cancel culture. Istilah-istilah ini mencerminkan tekanan sosial dan cara individu menampilkan diri di media sosial atau interaksi online lainnya.

Lebih lanjut, Duck Syndrome menjadi istilah yang menggambarkan seseorang terlihat tenang dan kompeten di permukaan, namun sebenarnya berjuang keras di balik layar. Fenomena ini mirip dengan seekor bebek yang tampak meluncur lancar di air, sementara kakinya bergerak cepat di bawah untuk tetap mengapung dan maju.

Penelitian di Psikologi Prima menunjukkan bahwa Duck Syndrome berkaitan dengan tekanan eksternal dan internal yang tinggi, terutama pada mahasiswa. Individu sering menampilkan citra sukses meski mengalami kecemasan, stres, dan penurunan harga diri. Studi tersebut menyebutkan ketidakmampuan menyalurkan emosi dan mencari dukungan memperkuat dampak negatif duck syndrome terhadap kesejahteraan psikologis mahasiswa, dengan tekanan akademik yang tinggi, ekspektasi sosial, dan kurangnya keterampilan manajemen stres sebagai faktor-faktor dominan.

Secara akademik, model “floating duck syndrome” menjelaskan bahwa menampilkan kesuksesan sambil menyembunyikan perjuangan dapat memengaruhi pembelajaran sosial. Teman sebaya mungkin menilai dunia lebih mudah dari kenyataan, sehingga individu bekerja berlebihan, mengalami ketidakseimbangan usaha dan imbalan, dan berisiko mengalami burnout dan kecemasan.

Fenomena ini belum dikategorikan sebagai gangguan mental resmi, tetapi psikolog menekannya sebagai bentuk stres nyata, terutama di lingkungan akademik dan profesional yang kompetitif. Duck Syndrome sering tumpang tindih dengan gejala stres kronis dan kecemasan akibat tekanan untuk selalu terlihat berhasil.

Ciri-ciri umum Duck Syndrome:

  1. Tampak tenang dan sukses di depan orang lain.
  2. Diam-diam bekerja lebih keras dari yang terlihat.
  3. Enggan mengakui kesulitan atau meminta bantuan.
  4. Menekan emosi negatif, yang bisa memicu kelelahan mental.

Faktor penyebab:

  1. Ekspektasi sosial dan budaya untuk selalu berhasil.
  2. Persaingan akademik atau profesional yang tinggi.
  3. Paparan media sosial yang hanya menampilkan sisi “sukses”.
  4. Perfeksionisme dan tekanan untuk terlihat sempurna.


Strategi menghadapi Duck Syndrome:

  1. Diskusi terbuka dengan teman atau profesional untuk mengurangi isolasi.
  2. Latihan manajemen stres seperti mindfulness, olahraga, dan istirahat cukup.
  3. Mengurangi perbandingan sosial, terutama di media sosial.
  4. Menerima ketidaksempurnaan sebagai bagian alami dari kehidupan.
google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....