Ancaman "Brain Rot" Dalam Drama Mikro

  • 10 Feb 2026 11:54 WIB
  •  Denpasar

RRI.CO.ID, Denpasar - Industri hiburan digital di tahun 2025 hingga 2026 ini didominasi oleh fenomena drama mikro atau drama vertikal berdurasi singkat. Bayangkan sebuah cerita di mana seorang menantu yang dihina tiba-tiba terungkap sebagai pewaris tahta miliarder, atau seorang sekretaris yang ternyata adalah agen rahasia, semuanya meledak dalam konflik hanya dalam 60 detik. 

Meskipun menawarkan cerita yang singkat melalui alur "balas dendam" atau "cinta mendadak" yang memuaskan, para ahli kesehatan mulai memperingatkan dampak sistemik dari konsumsi konten drama mikro ini, terutama kemunculan fenomena yang dikenal sebagai brain rot atau penurunan kualitas kognitif. Drama mikro berhasil merevolusi cara masyarakat mengonsumsi cerita dengan durasi hanya 60 hingga 90 detik per episode. 

Berdasarkan laporan South China Morning Post (SCMP), efektivitas drama ini terletak pada kemampuannya memberikan kepuasan instan dengan menghilangkan narasi yang bertele-tele. Namun, kecepatan alur cerita yang ekstrem ini menuntut otak untuk terus-menerus memproses konflik tanpa henti, yang menurut Himpunan Psikologi Indonesia (HIMPSI), dapat memicu kelelahan mental yang akut jika ditonton secara maraton (binge-watching).

Salah satu dampak paling krusial dari konsumsi drama mikro yang berlebihan adalah fenomena "Brain Rot". Dalam dunia medis, istilah ini merujuk pada kondisi di mana otak mengalami degradasi kemampuan untuk fokus dan berpikir mendalam akibat stimulasi berlebihan yang dangkal.

Melansir riset dari The Lancet Digital Health, drama mikro memicu pelepasan dopamin secara beruntun melalui penyelesaian konflik instan di setiap episodenya. Jika ini terjadi terus-menerus, otak akan mengalami perubahan pola kerja yang menyebabkan seseorang sulit berkonsentrasi pada aktivitas dunia nyata yang durasinya lebih panjang, seperti belajar atau bekerja. 

Di Indonesia, media nasional CNN Indonesia (Kesehatan) melaporkan bahwa banyak pengguna aktif merasa linglung atau mengalami brain fog (pikiran berkabut) setelah menonton drama mikro, yang merupakan indikasi nyata dari efek pembusukan fokus atau brain rot. Selain berdampak pada fungsi otak, fenomena drama mikro juga memicu gangguan sirkadian. 

Berdasarkan data dari Harvard Health Publishing, durasi pendek justru membuat orang terjebak dalam siklus "satu episode lagi" yang tiada habisnya karena rasa penasaran yang dipicu oleh cliffhanger di tiap akhir video. Di Indonesia, Kementerian Kesehatan RI (Kemenkes) menyoroti peningkatan kasus gangguan tidur dan kelelahan mata akibat paparan cahaya biru ponsel saat menonton drama mikro di malam hari. Posisi tubuh yang statis saat memegang ponsel juga berkontribusi pada nyeri leher kronis atau text neck syndrome.

Fenomena ini menunjukkan bahwa drama mikro adalah pisau bermata dua. Di satu sisi ia menjadi hiburan yang praktis, namun di sisi lain ia membawa risiko kesehatan serius seperti brain rot dan degradasi mental. Para ahli dari Ikatan Dokter Indonesia (IDI) menyarankan pentingnya kesadaran diri dalam membatasi durasi tontonan. Menyeimbangkan hiburan digital dengan aktivitas fisik dan literasi mendalam adalah kunci agar otak tetap sehat dan terhindar dari dampak negatif konsumsi konten instan yang berlebihan di tahun 2026.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....