Vitamin D Bukan Sekedar Vitamin Untuk Tulang
- 02 Feb 2026 08:52 WIB
- Denpasar
RRI.CO.ID, Denpasar – Banyak dari kita yang menganggap Vitamin D hanyalah pelengkap untuk kesehatan tulang, namun kenyataannya, zat ini bekerja lebih menyerupai hormon daripada sekadar vitamin biasa. Tahukah anda? vitamin D merupakan kunci utama yang menjaga berbagai sistem dalam tubuh tetap sinkron. Mulai dari memperkuat sistem imun agar tidak cepat terserang flu, hingga perannya yang vital dalam menekan peradangan akibat polusi lingkungan.
dr. Aris Govindha, SpPD, Dokter Spesialis Dalam Dari Perhimpunan Dokter Spesialis Penyakit Dalam Indonesia (PAPDI) menyatakan, Vitamin D juga bekerja menjaga elastisitas pembuluh darah dan mencegah perubahan sel-sel jantung yang merugikan. Sehingga Vitamin D menjadi benteng pertahanan bagi sistem kardiovaskular kita.
Tak hanya itu, Vitamin D merupakan komponen penting dalam melawan penyakit metabolik seperti kencing manis dan hipertensi. Bagi penderita diabetes, vitamin ini membantu menurunkan resistensi insulin, sehingga tubuh lebih efektif dalam mengelola kadar gula darah.
Menariknya, dampak Vitamin D juga merambah ke ranah kesehatan mental. Aris Govinda tidak menampik bahwa banyak orang tidak menyadari perasaan cemas yang berlebihan atau mood swing yang tidak menentu sering kali berakar pada defisiensi Vitamin D. Tanpa kadar yang cukup, keseimbangan kimiawi di otak terganggu, membuat seseorang lebih rentan terhadap stres psikologis.
Proses aktivasi Vitamin D di dalam tubuh merupakan perjalanan biologis yang menakjubkan. Sumbernya bisa berasal dari hewani maupun nabati (seperti Vitamin D3) yang terkandung dalam protein. Namun, vitamin yang kita konsumsi ini belum langsung aktif.
Tubuh membutuhkan bantuan sinar matahari (UVB) yang mengenai kulit untuk memulai prosesnya. Setelah itu, zat tersebut dibawa ke hati, kemudian diproses lebih lanjut di ginjal, sebelum akhirnya disebarkan dan diaktifkan ke seluruh bagian tubuh yang membutuhkan. Ini adalah kerja sama sempurna antara asupan nutrisi, alam, dan organ internal kita.
Masalah utamanya adalah defisiensi Vitamin D sering kali tidak menunjukkan gejala yang nyata atau bersifat "silent". Gejala baru akan terasa ketika kondisi tubuh mulai menurun, seperti munculnya nyeri sendi, nyeri tulang yang samar, hingga kelelahan kronis.
Kelompok yang paling berisiko mengalami kekurangan ini adalah lansia, orang dengan penyakit hati atau ginjal kronis, penderita autoimun, serta mereka yang sehari-harinya bekerja di dalam ruangan dan jarang terpapar sinar matahari pagi. Bagi mereka, pengecekan kadar Vitamin D secara rutin menjadi hal yang wajib dilakukan.
Aris menambahkan, kebutuhan harian setiap orang terhadap vitamin D berbeda-beda, hal ini tergantung pada kondisi kesehatannya. Untuk menjaga kebugaran secara umum dan bukan untuk kondisi penyakit tertentu, dosis yang disarankan berkisar antara 600 IU hingga 2000 IU. Namun, bagi mereka yang sudah menunjukkan gejala osteoporosis, dosis yang diperlukan biasanya lebih tinggi guna mempercepat kepadatan tulang. Dalam kasus defisiensi berat, dokter bahkan mungkin meresepkan dosis tinggi hingga 50.000 IU per minggu untuk mengembalikan level normal dalam tubuh secara efektif.
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....