Jangan Panik Anak "Step", Ini Mitos dan Faktanya
- 29 Jan 2026 22:55 WIB
- Denpasar
RRI.CO.ID, Denpasar - Istilah step sering digunakan masyarakat untuk menyebut kondisi kejang pada anak, terutama saat demam tinggi. Kejadian ini kerap menimbulkan kepanikan karena masih banyak anggapan keliru yang beredar. Padahal, secara medis step dikenal sebagai kejang demam, kondisi yang cukup sering terjadi pada anak usia 6 bulan hingga 5 tahun.
Banyak orang tua mengira step merupakan penyakit berbahaya yang dapat merusak otak anak. Faktanya, sebagian besar kejang demam bersifat sementara dan tidak menimbulkan dampak jangka panjang.
dr. Irawati Hawari, Sp.N, dokter spesialis neurologi, menjelaskan bahwa kejang demam terjadi karena respons otak anak terhadap kenaikan suhu tubuh yang cepat, bukan karena adanya kerusakan otak.
Mitos lain yang sering dipercaya adalah anggapan bahwa anak yang pernah step pasti akan mengalami epilepsi. Secara medis, kejang demam berbeda dengan epilepsi. Mayoritas anak yang mengalami step tidak akan menderita epilepsi di kemudian hari, terutama jika kejang berlangsung singkat dan tidak berulang.
Kesalahan penanganan juga masih sering dilakukan, seperti memasukkan benda ke dalam mulut anak saat kejang atau menarik lidahnya. Tindakan ini justru berbahaya karena dapat menyebabkan cedera dan risiko tersedak. Penanganan yang dianjurkan adalah memiringkan tubuh anak, melonggarkan pakaian, dan memastikan anak berada di tempat yang aman hingga kejang berhenti.
Pemahaman yang benar tentang step sangat penting agar orang tua tidak panik dan salah bertindak. Kejang demam umumnya tidak berbahaya, namun anak perlu segera dibawa ke tenaga medis jika kejang berlangsung lebih dari lima menit, terjadi berulang, atau muncul tanpa disertai demam. Edukasi yang tepat dapat membantu melindungi keselamatan dan kesehatan anak.
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....