Mengapa Penderita Rabies Takut pada Air?
- 30 Jul 2024 07:45 WIB
- Denpasar
KBRN, Denpasar: Rabies dikenal dengan kemampuannya mengubah perilaku inang yang terinfeksi menjadi agresif. Penyakit ini disebabkan oleh paparan virus yang menyerang sistem saraf pusat. Pada manusia, virus rabies dapat menyebabkan berbagai gejala yang melemahkan, seperti cemas dan kebingungan, kelumpuhan parsial, agitasi, halusinasi, dan hidrofobia.
Hidrofobia, atau ketakutan terhadap air, merupakan gejala yang muncul pada fase akhir infeksi rabies. Gejala ini menyebabkan penderita panik saat melihat air dan menolak untuk minum. Rasa takut ini bukanlah ketakutan langsung terhadap air, melainkan akibat dari rasa sakit yang luar biasa saat menelan cairan, termasuk air dan air liur. Infeksi rabies menyebabkan kejang hebat di tenggorokan saat seseorang mencoba menelan. Bahkan, hanya memikirkan menelan air dapat memicu kejang, sehingga tampak seperti ketakutan terhadap air.
Rasa nyeri ini juga menjelaskan mengapa hewan yang terkena rabies sering mengeluarkan air liur. Virus rabies dapat membuat otot-otot yang bertanggung jawab untuk mengontrol proses menelan menjadi lumpuh. Ketidakmampuan untuk menelan air liur dan rasa nyeri yang luar biasa menyebabkan penderita terlihat takut pada air.
Gejala rabies yang perlu diwaspadai meliputi demam, badan lemas dan lesu, tidak nafsu makan, insomnia, sakit kepala hebat, sakit tenggorokan, cemas, serta munculnya fobia seperti hidrofobia, aerofobia (takut udara), dan fotofobia (takut cahaya). Hidrofobia terjadi pada tahap akhir infeksi virus dan menyebabkan kejang yang tidak disengaja dan menyakitkan di tenggorokan saat minum atau bahkan berpikir untuk minum air.
Infeksi rabies perlu ditangani sesegera mungkin karena dapat berkembang dengan cepat dan berujung kematian. Virus rabies dapat menular melalui gigitan atau cakaran hewan yang terinfeksi, seperti anjing, kelelawar, dan rubah. Virus ini sering tidak aktif selama satu hingga tiga bulan sebelum mulai menyerang sistem saraf pusat dan gejala muncul. Setelah gejala rabies muncul, pengobatan menjadi tidak efektif, dan penyakit ini biasanya berakhir dengan kematian.
Hidrofobia terutama terjadi pada manusia selama stadium lanjut rabies yang parah, yaitu sejenis rabies yang menyebabkan radang otak atau ensefalitis. Virus rabies menyebar dari luka awal ke sistem saraf pusat dan otak, kemudian ke kelenjar ludah dan organ tubuh lainnya, termasuk paru-paru dan ginjal. Gejala hidrofobia sering muncul bersamaan dengan gejala rabies lainnya, seperti hiperaktif, agitasi, agresi, kondisi mental yang berubah, kesulitan bernapas, halusinasi, kejang otot, produksi air liur berlebihan, dan fluktuasi kesadaran.
Sebagian besar kasus rabies dan hidrofobia terjadi di benua Asia dan Afrika, dengan anak-anak berisiko lebih besar terkena rabies dibandingkan orang dewasa. Anak-anak lebih mungkin digigit hewan dan sering tidak melaporkan gigitan atau cakaran kecil. Orang yang tinggal atau bepergian di daerah di mana rabies biasa terjadi, serta mereka yang sering beraktivitas di luar ruangan atau bekerja dengan hewan, seperti dokter hewan dan petugas karantina hewan, juga berisiko lebih tinggi terkena rabies dan hidrofobia.
Rabies adalah penyakit serius yang memerlukan penanganan segera untuk mencegah perkembangan gejala yang parah dan berujung pada kematian. Jika mengalami gejala-gejala yang disebutkan, segera mencari bantuan medis adalah langkah yang sangat penting.
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....