AI ketika Menjadi Tempat Curhat
- 29 Sep 2026 13:03 WIB
- Denpasar
RRI.CO.ID, Denpasar – Ketika sedang sedih, marah, cemas, atau hanya ingin bercerita, sebagian orang kini memilih membuka chatbot AI dan menuangkan isi pikirannya di sana. AI terasa seperti teman bicara yang selalu tersedia, tidak mudah lelah, dan dapat memberikan respons dalam hitungan detik, sehingga percakapan yang awalnya sederhana bisa berlangsung semakin panjang.
Fenomena tersebut bukan lagi sekadar kebiasaan sebagian pengguna teknologi. Melansir laman JAMA Pediatrics, survei nasional di Amerika Serikat pada 2025 menemukan 19,2 persen remaja dan dewasa muda usia 12 hingga 21 tahun pernah menggunakan chatbot AI untuk mendapatkan nasihat mengenai kesehatan mental, sementara 42,8 persen dari pengguna tersebut melakukannya sedikitnya sebulan sekali.
Ada alasan mengapa AI bisa terasa nyaman sebagai tempat bercerita, terutama bagi orang yang merasa kesulitan membuka diri kepada orang lain. Percakapan yang berlangsung secara pribadi dan respons yang cepat memungkinkan seseorang mengutarakan pikiran tanpa harus terlebih dahulu menghadapi rasa malu, takut dihakimi, atau kekhawatiran merepotkan orang lain.
Namun, kenyamanan tersebut tidak berarti setiap respons AI selalu aman untuk dijadikan pegangan. American Psychological Association (APA) mencatat kekhawatiran para psikolog mengenai kecenderungan chatbot untuk mengafirmasi pengguna, yang dalam kondisi tertentu dapat memperkuat keyakinan atau pola pikir yang tidak sehat, terutama pada pengguna yang sedang rentan.
| Baca juga: Insight dari Orang Lain, Kenapa Lebih Ngena? |
Risiko tersebut menjadi lebih rumit ketika seseorang mulai memperlakukan AI bukan hanya sebagai alat, tetapi sebagai teman, tempat bergantung, atau satu-satunya ruang untuk mendapatkan dukungan emosional. APA mencatat bahwa sejumlah ahli melihat interaksi AI yang sangat personal dan terus-menerus sebagai salah satu faktor yang perlu diperhatikan dalam kasus gangguan psikologis yang berkaitan dengan penggunaan chatbot, meski hubungan sebab-akibatnya masih terus diteliti.
Karena itu, persoalannya bukan sesederhana mengatakan bahwa curhat kepada AI berbahaya atau sebaliknya selalu membantu. Bahkan Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) menilai penggunaan AI generatif untuk dukungan emosional perlu dikaji lebih lanjut, termasuk kemungkinan munculnya ketergantungan emosional dan kebutuhan akan sistem pengamanan yang melibatkan keahlian kesehatan mental.
AI tetap dapat menjadi ruang untuk menuangkan pikiran, mencari sudut pandang awal, atau membantu seseorang merangkai apa yang sedang dirasakan sebelum membicarakannya dengan orang lain. Namun, ketika masalah mulai mengganggu kehidupan sehari-hari, hubungan sosial, pekerjaan, atau menimbulkan kondisi yang terasa sulit dikendalikan, percakapan dengan AI sebaiknya tidak menjadi pengganti dukungan dari orang terpercaya maupun tenaga profesional.
Pada akhirnya, mungkin yang perlu diperhatikan bukan hanya apa yang dikatakan seseorang kepada AI, tetapi seberapa besar peran AI dalam kehidupan emosionalnya. Teknologi dapat menjadi teman bicara yang mudah dijangkau, tetapi kemampuan untuk membedakan antara mencari ruang bercerita dan membangun ketergantungan tetap berada pada manusia yang menggunakannya.
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....