Akademisi Unud Soroti Dampak Media Sosial terhadap Psikologis

  • 21 Sep 2026 12:50 WIB
  •  Denpasar

RRI.CO.ID, Denpasar — Penggunaan media sosial membawa risiko perundungan digital sekaligus ancaman kesehatan mental akibat paparan konten di dunia maya. Kondisi ini menuntut pengguna untuk lebih bijak membatasi ruang interaksi serta menjaga etika berkomunikasi.

Akademisi dan dosen Ilmu Komunikasi Universitas Udayana, Dr. Ni Made Ras Amanda Gelgel, S.Sos., M.Si., menjelaskan bahwa pengguna memiliki kendali penuh untuk membatasi interaksi pada akun pribadi mereka. Langkah ini penting dilakukan guna menyaring respons negatif yang berada di luar kontrol pengguna.

"Jadi, bagaimana untuk menghindari saat kita sudah bermain media sosial, maka hal-hal yang seperti akan di komen, akan di like atau tidak di like itu adalah sebuah sesuatu yang di luar kendali kita. Jadi, sebenarnya mari kita seperti melindungi sendiri, diri kita sendiri dengan mengatur siapa saja teman-teman kita," kata Ras Amanda.

Ia menerangkan bahwa gangguan kesehatan mental tidak hanya disebabkan oleh perundungan langsung, melainkan juga dari kebiasaan membandingkan diri saat melihat unggahan orang lain. Perasaan terasing muncul ketika pengguna merasa tidak memenuhi standar gaya hidup atau pencapaian yang ditampilkan di media sosial.

"Misalnya dia melihat foto-foto orang yang kok ya cantik-cantik, kok ya pinter-pinter, kok ya kaya-kaya, kok ya gaya hidupnya gini-gini gitu ya. Kemudian dia merefleksikan kok saya tidak, kok saya belum, kok saya nggak kayak gitu. Itu yang akhirnya mereka merasa bahwa saya tidak masuk ke dalam kelompok masyarakat yang pada umumnya nih. Padahal apa yang tampil di media sosial itu kan kerap kali bukan kenyataannya," jelas Ras Amanda.

Kondisi tersebut rentan dialami oleh anak-anak dan remaja yang masih berada dalam proses pencarian jati diri. Besarnya dorongan untuk diakui lingkungan membuat mereka mudah terdampak oleh berbagai unggahan di ruang digital.

"Anak-anak atau remaja itu kan proses pencarian jati diri gitu ya. Jadi rasa ingin diakui, rasa ingin menjadi bagian dari sebuah kelompok itu sangat besar," kata Ras Amanda.

Oleh karena itu, penguatan mental dan pola pikir mandiri menjadi kunci utama agar pengguna tidak mudah terpengaruh saat menghadapi perundungan maupun paparan konten di media sosial.

"Jadi kalau kita bicara tentang pengguna media sosial yang dibully atau merasa tidak mental health-nya kena nih tentang apa yang ada di postingan orang-orang, kita harus memperkuat diri kita sendiri. Mental kita sendiri, pola pikir kita sendiri," ujarnya.

Ia menambahkan bahwa peran sekolah kini sangat dibutuhkan untuk mendampingi siswa yang mengalami persoalan psikologis terkait aktivitas media sosial. Kehadiran layanan pendampingan tersebut diharapkan mampu memberikan ruang aman bagi siswa untuk bercerita.

"Maka sebenarnya banyak sekali sekolah-sekolah yang mengeluarkan pendampingan-pendampingan untuk mereka yang merasa bahwa meka butuh bantuan untuk berbicara mengenai permasalahan-permasalahan mental health terkait dengan apapun yang terjadi di media sosial," tambahnya.

Sementara itu, Akademisi Universitas Udayana dan Pengamat Pendidikan, Prof. Dr. Ir. Putu Rumawan Salain, M.Si., IAI., menyoroti sifat bahasa dalam media digital yang rawan menimbulkan salah tafsir. Pesan tertulis sering kali dimaknai berbeda oleh penerima sehingga niat baik justru dapat tertangkap secara keliru.

"Namun saya alami pesan-pesan yang dilakukan melalui chat atau media ini, media sosial ini sering juga dimaknai oleh penerima dengan berbagai interpretasi karena bahasa itu multi-tafsir gitu ya. Sehingga dengan demikian maksimum baik bisa terkeset menjadi kurang baik," ujar Putu Rumawan.

Menurutnya, perundungan tidak hanya berkaitan dengan kondisi fisik. Perundungan dapat menyasar kehidupan pribadi, karier, prestasi, hingga kelompok atau komunitas tertentu.

“Jadi bukan soal perundungan itu bukan soalnya fisik saja. Tapi soal kadang-kadang karier, kadang-kadang juga prestasi dan yang lain-lainnya, mungkin saling sindir dan lain-lain,” katanya.

Putu Rumawan juga menekankan pentingnya membangun budaya sekolah yang ramah dan inklusif, khususnya bagi siswa penyandang disabilitas maupun siswa dengan kemampuan berbeda. Lingkungan sekolah dan media digital seharusnya menjadi sarana untuk saling memberi dukungan positif demi pertumbuhan kepribadian peserta didik.

“Jangan membuli untuk menterpurukkan teman. Tapi mari kita ajak mereka untuk bisa bangkit bersama. Melalui media ini bila perlu diberikan saran-saran yang positif untuk perkembangan dan pertumbuhan kepribadian,” pungkas Putu Rumawan.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....