Sistem Listrik Jadi Tantangan Keberadaan Data Center di Indonesia

  • 14 Sep 2026 11:13 WIB
  •  Denpasar

RRI.CO.ID, Denpasar - Pertumbuhan industri data center membuat kebutuhan listrik Indonesia memasuki fase baru karena pusat komputasi membutuhkan pasokan yang besar dan stabil. Tantangannya, ternyata tidak selalu tentang penyediaan listrik, tetapi memastikan energi tersebut bisa dikirim ke lokasi data center secara cepat dan andal.

Berdasarkan proyeksi kebutuhan tenaga listrik data center yang mengacu pada Rencana Usaha Penyediaan Tenaga Listrik (RUPTL) PLN 2025–2034, kebutuhan listrik diperkirakan naik dari sekitar 1.098 megawatt (MW) pada 2025 menjadi sekitar 2.122 MW pada 2026. Angka tersebut diproyeksikan terus meningkat hingga sekitar 5.226 MW pada 2034, atau hampir lima kali lipat dalam satu dekade.

Lonjakan kebutuhan itu sejalan dengan semakin banyaknya layanan digital dan perkembangan kecerdasan buatan (AI) yang membutuhkan kemampuan komputasi besar. Artinya, pertumbuhan data center akan membuat kebutuhan listrik meningkat sekaligus menuntut sistem kelistrikan yang lebih fleksibel.

PT Perusahaan Listrik Negara (Persero) menyatakan siap mendukung pertumbuhan tersebut dengan cadangan daya (reserve margin) yang memadai. Mayoritas data center saat ini berada di kawasan strategis seperti Cikarang, Karawang, dan Jabodetabek yang ditopang sistem kelistrikan Jawa-Bali.

“Guna mengantisipasi lonjakan konsumsi daya data center dalam beberapa tahun ke depan, Pemerintah bersama PLN telah menyiapkan langkah ekspansi melalui Rencana Usaha Penyediaan Tenaga Listrik (RUPTL) 2025–2034 dan inisiatif energi terbarukan,” kata Executive Vice President Komunikasi Korporat & TJSL PLN Gregorius Adi Trianto, seperti dilansir dari keterangan persnya, Jumat 4 September 2026. Dalam RUPTL 2025–2034, PLN menargetkan tambahan kapasitas pembangkit sebesar 69,5 gigawatt (GW), dengan 76% berasal dari energi baru terbarukan (EBT) dan sistem penyimpanan energi. PLN juga merencanakan pembangunan jaringan transmisi sepanjang 47.758 kilometer sirkuit hingga 2034 untuk menghubungkan sumber listrik dengan pusat kebutuhan. Langkah tersebut penting karena sumber energi bersih tidak selalu berada dekat dengan pusat industri dan data center. Jaringan transmisi yang kuat diperlukan agar listrik dari pembangkit EBT dapat disalurkan ke wilayah yang memiliki permintaan tinggi.

Pemerintah juga mulai mendorong penggunaan tenaga surya dalam skala besar melalui Program PLTS 100 GWp yang diluncurkan pada Selasa, 25 Agustus 2026. Program tersebut diarahkan untuk memperkuat ketahanan energi sekaligus memperluas pemanfaatan energi bersih di berbagai wilayah Indonesia.

Namun, pembangunan pembangkit dan transmisi tetap harus diikuti kesiapan gardu induk, jaringan cadangan, serta koneksi menuju lokasi data center. Jika salah satu bagian tersebut tertinggal, tambahan kapasitas pembangkit belum tentu langsung dapat digunakan oleh industri yang membutuhkan listrik dalam jumlah besar.

Persoalan lainnya adalah pemerataan pusat data center di luar kawasan utama seperti Jawa dan Batam. Pengembangan di wilayah lain dapat membuka peluang ekonomi baru, tetapi membutuhkan dukungan listrik, jaringan telekomunikasi, dan infrastruktur dasar yang memadai.

⁠⁠⁠⁠⁠⁠⁠

Indonesia juga perlu memperhatikan kualitas energi yang ditawarkan kepada investor, bukan hanya jumlah megawatt yang tersedia. Bagi perusahaan teknologi global, sumber listrik yang lebih bersih semakin penting karena konsumsi energi data center turut menjadi bagian dari target keberlanjutan mereka.

Di tengah persaingan dengan Singapura dan Malaysia, kecepatan membangun ekosistem tersebut akan menentukan posisi Indonesia sebagai pusat data regional. Karena itu, pengembangan data center perlu dilihat sebagai proyek bersama antara sektor kelistrikan, telekomunikasi, pemerintah, dan industri.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....