OpenAI Kenalkan AI ’Hacker’ untuk Melindungi Sistem Digital

  • 12 Agt 2026 11:30 WIB
  •  Denpasar

RRI.CO.ID, San Fransisco - Perusahaan teknologi kini tidak hanya berlomba membuat AI yang pintar menjawab pertanyaan atau menulis kode, tetapi juga menggunakannya untuk memburu celah keamanan. OpenAI menjadi salah satu perusahaan yang mendorong penggunaan AI untuk membantu peneliti menemukan kerentanan sebelum dimanfaatkan oleh pelaku serangan siber. Pada Agustus 2026, OpenAI memperkenalkan GPT-5.6-Cyber, model yang dirancang khusus untuk pekerjaan keamanan siber tingkat lanjut. Dilansir dari laman resminya, model ini dibangun berdasarkan GPT-5.6 Sol dan ditujukan untuk membantu peneliti menemukan kerentanan, menganalisis kode, memeriksa malware, menangani insiden, serta memastikan perbaikan keamanan benar-benar berhasil.

Menariknya, kemampuan tersebut tidak diberikan secara bebas kepada semua pengguna. OpenAI menyediakan GPT-5.6-Cyber melalui Daybreak Red, yaitu akses khusus bagi individu dan organisasi yang telah disetujui untuk melakukan penelitian keamanan secara resmi. Program Daybreak juga memiliki tingkat Blue yang menggunakan model serbaguna seperti GPT-5.6 Sol untuk pekerjaan pertahanan yang lebih umum. Sementara Daybreak Red menggunakan model khusus seperti GPT-5.6-Cyber untuk penelitian kerentanan, validasi exploit, pengujian keamanan, dan pekerjaan lain yang membutuhkan pengawasan lebih ketat.

Perbedaan tersebut penting karena kemampuan mencari celah keamanan memiliki sifat dual-use. Teknologi yang digunakan untuk menemukan dan memperbaiki kelemahan sistem juga dapat disalahgunakan untuk menyerang sistem jika berada di tangan pihak yang tidak bertanggung jawab. OpenAI mengklaim GPT-5.6-Cyber mampu menyelesaikan 95% permintaan dalam evaluasi Advanced Cybersecurity Completion Rate. Angka tersebut jauh di atas GPT-5.5-Cyber yang mencapai 57,3%, sedangkan GPT-5.6 Sol hanya mencapai 1,5% dengan pengamanan standar dan 2% melalui Daybreak Blue.

Pengujian tersebut mencakup tugas keamanan tingkat lanjut seperti pengembangan rangkaian exploit, melewati autentikasi, dan meningkatkan hak akses. Namun, angka evaluasi tersebut merupakan pengujian internal OpenAI dan tidak berarti model dapat menyelesaikan 95% seluruh masalah keamanan di dunia nyata. Kemampuan AI tersebut juga sudah digunakan untuk penelitian terhadap perangkat lunak nyata. OpenAI mengatakan GPT-5.6-Cyber membantu menemukan dua kerentanan yang sebelumnya belum diketahui pada V8, mesin JavaScript yang digunakan Chrome, dan temuan tersebut kemudian dilaporkan kepada Google untuk diperbaiki.

Selain V8, OpenAI menyebut model tersebut membantu menemukan kerentanan pada sistem operasi, perangkat ponsel, dan sejumlah perangkat lunak basis data. Perusahaan juga menegaskan GPT-5.6-Cyber tidak terlibat dalam insiden peretasan Hugging Face. Perkembangan ini menunjukkan bahwa pekerjaan keamanan siber mulai bergeser dari sekadar mencari masalah setelah serangan terjadi menjadi upaya menemukan kelemahan sebelum dimanfaatkan. AI dapat membantu mempercepat pekerjaan tersebut, tetapi hasil temuannya tetap membutuhkan pemeriksaan manusia, pengujian, dan proses perbaikan yang benar. OpenAI sendiri menekankan bahwa akses terhadap model dengan kemampuan siber tingkat lanjut harus disertai pengamanan. Akses Daybreak menggunakan verifikasi identitas, pembatasan penggunaan, pemantauan, serta persyaratan bahwa pekerjaan yang dilakukan harus memiliki izin.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....