AI Membuat Kita Lebih Pintar atau Justru Makin Malas Berpikir?
- 29 Jul 2026 05:59 WIB
- Denpasar
RRI.CO.ID, Denpasar – Kehadiran kecerdasan buatan atau Artificial Intelligence (AI) kini semakin dekat dengan kehidupan sehari-hari. Mulai dari mencari ide, merangkum dokumen, menerjemahkan bahasa, hingga membantu menyusun rencana pekerjaan, berbagai tugas dapat diselesaikan lebih cepat berkat bantuan teknologi ini.
Kemudahan tersebut membawa banyak manfaat, terutama dalam meningkatkan efisiensi. Menurut laporan McKinsey & Company, AI berpotensi membantu mengurangi waktu untuk menyelesaikan pekerjaan rutin sehingga manusia dapat lebih fokus pada tugas yang membutuhkan kreativitas, analisis, dan pengambilan keputusan.
Di sisi lain, para peneliti mengingatkan bahwa penggunaan AI tetap memerlukan sikap kritis. Penelitian yang dipublikasikan dalam jurnal Societies pada 2025 menunjukkan bahwa penggunaan AI tanpa proses evaluasi dan verifikasi dapat berkaitan dengan menurunnya kecenderungan berpikir kritis, terutama ketika pengguna langsung menerima jawaban tanpa meninjaunya kembali.
Meski demikian, temuan tersebut bukan berarti AI membuat seseorang menjadi kurang cerdas. UNESCO, melalui dokumen Guidance for Generative AI in Education and Research, mengatakan bahwa AI sebaiknya dimanfaatkan sebagai alat pendukung pembelajaran, bukan pengganti proses memahami, menganalisis, maupun menyelesaikan masalah secara mandiri.
| Baca juga: Apa Itu Model Keamanan Siber Zero Trust? |
Cara memanfaatkan AI menjadi faktor yang paling menentukan. Ketika digunakan untuk mencari referensi, memeriksa tata bahasa, atau membantu memahami konsep yang sulit, AI dapat mempercepat proses belajar tanpa menghilangkan kesempatan untuk berpikir.
Sebaliknya, menerima seluruh jawaban AI tanpa mempertanyakan atau memeriksa kembali kebenarannya dapat membuat kemampuan bernalar semakin jarang dilatih. Karena itu, membandingkan informasi dari beberapa sumber tepercaya, memeriksa fakta, dan mencoba menyelesaikan persoalan secara mandiri sebelum meminta bantuan AI menjadi kebiasaan yang penting untuk dipertahankan.
Di dunia kerja maupun pendidikan, AI juga lebih tepat dipandang sebagai mitra daripada pengganti kemampuan manusia. Kreativitas, empati, pertimbangan etis, dan kemampuan mengambil keputusan dalam situasi yang kompleks masih menjadi keunggulan yang sulit digantikan oleh teknologi.
Cara menggunakan AI akan menentukan manfaat yang diperoleh setiap orang. Jika dimanfaatkan secara bijak, teknologi ini dapat membantu meningkatkan produktivitas dan memperluas wawasan, sementara kemampuan berpikir kritis tetap perlu diasah agar manusia tidak sekadar menerima jawaban, tetapi juga memahami alasan di baliknya.
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....