Fenomena Blood Falls, Air Terjun Darah di Antartika
- 30 Jul 2026 11:36 WIB
- Denpasar
RRI.CO.ID,Denpasar – Kabar terbaru datang dari Benua paling selatan di Bumi. Terdapat fenomena menarik dari Antartika yang belakangan dikenal sebagai Blood Falls (Air Terjun Darah). Sekilas terlihat seperti darah yang mengalir dari dalam es. Namun, fenomena menakjubkan di Antartika ini sama sekali bukan disebabkan oleh darah.
Dilansir dari nationalgeographic.grid.id, Fenomena Blood Falls di Antartika terlihat sebagai aliran merah yang kontras di atas permukaan es putih, dengan cairan yang secara berkala merembes keluar dari gletser. Warna mencolok ini memberi kesan seolah-olah es sedang “berdarah”. Fenomena ini berada di Gletser Taylor, Antartika. Selama lebih dari 100 tahun sejak pertama kali didokumentasikan pada 1911, para ilmuwan berusaha mengungkap penyebab warna merah mencolok yang keluar dari gletser tersebut.
Kuncinya ternyata adalah garam. Studi terbaru menunjukkan bahwa air di bawah gletser bukanlah air biasa, melainkan larutan garam pekat yang kemungkinan terperangkap jutaan tahun lalu ketika air laut purba tertutup oleh lapisan es yang terus bergerak. Selain garam, air tersebut juga mengandung zat besi. Ketika mencapai permukaan dan bersentuhan dengan oksigen, zat besi di dalamnya mengalami oksidasi, menghasilkan warna merah yang menyerupai karat pada logam.
Garam menurunkan titik beku, sehingga air tetap cair meskipun berada dalam suhu sangat dingin. Selain itu, ada efek lain yang lebih halus, ketika air membeku, ia melepaskan panas. Panas ini dapat sedikit menghangatkan es di sekitarnya, membantu kantong-kantong cairan bertahan lebih lama dari yang diperkirakan.
Selama lebih dari satu abad, fenomena ini membingungkan para ilmuwan. Bukan hanya karena warnanya yang mencolok, tetapi karena cairannya terus mengalir. Di suhu sedingin ini, air seharusnya membeku sepenuhnya. Cairan tidak semestinya bergerak, dan tekanan pun tidak seharusnya terbentuk. Namun, sesuatu di bawah lapisan es justru terus mendorongnya ke permukaan.
Meski demikian, semua ini belum sepenuhnya menjelaskan semburan tiba-tiba cairan merah tersebut. Penemuan ini memberi wawasan baru tentang batas kemampuan kehidupan untuk bertahan di lingkungan ekstrem. Fenomena ini mengingatkan kita bahwa Bumi masih menyimpan banyak rahasia. Bahkan di salah satu tempat paling dingin dan paling terpencil di planet ini, alam terus menunjukkan keajaiban yang belum sepenuhnya kita pahami.
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....