Mengapa Melampiaskan Marah Justru Memperburuk Keadaan?
- 25 Jul 2026 11:34 WIB
- Denpasar
RRI.CO.ID, Denpasar – Di tengah situasi kehidupan yang melelahkan dan penuh tekanan, kita sering kali merasa sulit untuk menampilkan sikap yang tenang, apalagi benar-benar merasa tenang di dalam diri. Namun, sedikit demi sedikit, kemampuan kita untuk mengendalikan emosi sebenarnya dapat berkembang.
Dengan memilih tanggapan yang berbeda dari godaan amarah, kita mampu memegang kendali atas diri sendiri secara lebih baik. Mampukah kita terus mengasahnya?
Buku The Psychology of Emotion karya David J. Lieberman mengungkapkan pemikiran lama tentang cara kerja otak manusia saat merasakan amarah. Dahulu, otak yang sedang diliputi amarah diibaratkan seperti ketel yang berisi air panas.
Jika tekanan di dalamnya terus bertambah, tutupnya akan terangkat oleh uap. Dari analogi ini, para ahli psikologi terdahulu sempat mendorong banyak orang untuk meredakan tekanan emosional dengan cara meluapkan amarah.
Hal ini justru berbeda dari Brad J. Bushman dalam penelitiannya pada tahun 2001 yang berjudul “Does Venting Anger Feed or Extinguish the Flame?” menjelaskan, semakin sering seseorang melampiaskan perasaan secara agresif, ia justru akan merasa semakin buruk. Tekanan darah akan meningkat dan amarah bukannya padam, melainkan kian membesar.
Mengapa melampiaskan marah justru merusak pikiran? Fenomena ini terjadi karena tanpa disadari, kita membenarkan reaksi kita untuk marah-marah. Semakin marah seseorang, semakin menderita dirinya, dan kemarahan tersebut perlahan menguasai seluruh pikiran.
Pada reaksi marah yang bersifat naluriah, ego kita mengidentifikasi adanya ancaman bagi diri emosional, bukan ancaman fisik. Buruknya, dalam kondisi terancam secara emosional ini, logika kita tidak bekerja.
Kita tidak lagi berpikir rasional, melainkan hanya bereaksi secara impulsif. Sisi lain, terdapat penemuan dalam biologi molekuler yang memberi kita pemahaman berharga tentang hubungan antara perilaku manusia dan sirkuit otak.
Akal budi menciptakan reaksi emosional yang kemudian diperkuat di dalam otak. Sebagai contoh, ketika kita merasa kesal terhadap seseorang yang tidak sopan, kita akan cenderung bereaksi lebih kuat ketika mengalami lagi situasi yang sama di kemudian hari.
Hal ini disebabkan oleh koneksi saraf yang mengasosiasikan antara perlakuan kasar dan amarah kita sudah terbentuk dengan sangat kuat. Setiap sel otak atau neuron beradaptasi dengan setiap sinyal yang diterima dari sel-sel di sekitarnya.
Seperti halnya otot, sirkuit otak akan menjadi semakin kuat jika kita sering menggunakannya. Jika otak sering dilatih untuk merespons dengan tenang, maka ia akan menjadi semakin terlatih dan kuat, bahkan menjadi lebih jago dalam mengontrol rasa nyeri atau penderitaan emosional.
Oleh karena itu, ketika kita memilih untuk tetap tenang saat menghadapi hinaan, merasa tidak dihormati, gelisah, atau hampir lepas kendali, kita sebenarnya sedang merangsang saraf terkait untuk menumbuhkan sambungan-sambungan baru yang disebut dendrit. Dendrit, cabang dari sel saraf, berfungsi mengantarkan informasi ke dan dari sel saraf.
Semakin banyak jumlah dendrit yang terbentuk di area pengendalian diri, semakin cepat dan lancar kita bisa memahami informasi, mengolah emosi, serta mengintegrasikan apa yang kita pelajari ke dalam dasar pengetahuan kita. Secara harfiah, kita menjadi lebih pintar, lebih efisien, dan lebih efektif dalam mengendalikan diri.
Kebalikannya pun berlaku secara mutlak. Hubungan-hubungan saraf yang jarang digunakan secara perlahan akan melemah dan akhirnya memudar. Melalui pengamatan mikroskop elektron, para ilmuwan bahkan dapat melihat bagaimana hubungan-hubungan yang tidak aktif di dalam otak perlahan-lahan menghilang.
Artinya, setiap orang memiliki kekuatan untuk memperkuat pengendalian dirinya dengan terus menjaga kendali secara sadar. Sebaliknya, seseorang dapat secara tidak sadar mengikis kemampuannya dalam menahan diri apabila ia terus membiarkan emosi dan amarah terjadi secara sengaja, berulang, dan berlangsung lama.
Ketenangan pikiran bukanlah sebuah bakat alami, melainkan hasil dari latihan otak yang konsisten.
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....