Singapura – Jepang Kembangkan Robot Biohibrida untuk Pencarian Korban Bencana
- 17 Jul 2026 21:19 WIB
- Denpasar
RRI.CO.ID, Singapura - Tim peneliti dari Nanyang Technological University (NTU) Singapura dan Waseda University Jepang mengembangkan robot biohibrida berbasis kecoa yang dirancang untuk membantu operasi pencarian dan penyelamatan. Hasil penelitian tersebut dipublikasikan dalam jurnal ilmiah Nature Communications pada akhir Juni 2026.
Dilansir dari laman web NTU, berbeda dengan robot mini biasa yang mengandalkan motor dan baterai sepenuhnya, teknologi ini memanfaatkan kecoa Madagascar atau kecoa mendesis sebagai penggeraknya. Serangga tersebut dipasangi perangkat khusus yang membuatnya mampu bertahan dan bergerak di lingkungan yang minim oksigen, termasuk di bawah air.
Perangkat yang dikenakan kecoa tidak hanya sebagai pelindung tubuh, melainkan sistem penyuplai oksigen berukuran kecil. Oksigen tersebut dihasilkan melalui reaksi kimia di dalam modul, kemudian dialirkan ke tubuh kecoa menggunakan selang kecil sehingga tidak memerlukan tabung udara yang lebih berat.
Pendekatan ini dipilih karena robot berukuran kecil memiliki keterbatasan dalam membawa beban dan menyimpan energi. Dengan bobot yang tetap ringan, kecoa masih bisa bergerak lincah melewati celah sempit maupun medan yang sulit dijangkau robot konvensional.
Berdasarkan hasil pengujian di laboratorium, kecoa biohibrida tanpa sayap mampu bertahan sekitar tiga jam di dalam air. Robot tersebut juga berhasil diarahkan melewati berbagai rintangan yang berpotensi menghambat pergerakannya.
Para peneliti menilai teknologi ini berpotensi digunakan untuk mencari korban di bawah reruntuhan bangunan, saluran drainase, pipa, atau area sempit yang sulit dimasuki manusia maupun robot beroda. Dalam situasi bencana seperti gempa bumi atau banjir, kemampuan menjangkau ruang sempit dapat mempercepat proses pencarian korban selamat.
Meski demikian, tim peneliti menegaskan bahwa teknologi ini masih berada pada tahap penelitian. "Teknologi ini masih dalam tahap penelitian laboratorium," sehingga belum diuji dalam skenario bencana nyata dan belum siap diterapkan secara langsung di lapangan.
Peneliti juga menilai pendekatan biohibrida lebih efisien dibanding membangun robot amfibi mini sepenuhnya dari nol. Dengan memanfaatkan kemampuan alami kecoa untuk bergerak di berbagai permukaan, sistem hanya perlu menambahkan teknologi pendukung agar serangga tersebut dapat beroperasi di lingkungan yang sebelumnya tidak bisa dijangkau.
Riset ini melanjutkan pengembangan robot biohibrida yang semakin berkembang dalam beberapa tahun terakhir. Pada 2025, tim peneliti lain juga berhasil mengendalikan kawanan 20 kecoa cyborg secara bersamaan, sedangkan penelitian terbaru ini berfokus memperluas kemampuan serangga tersebut agar dapat beroperasi di area tergenang air dan minim oksigen.
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....