Muncul Kekhawatiran Dampak Membakar ’Satelit Sampah’ di Atmosfer
- 07 Jul 2026 13:27 WIB
- Denpasar
RRI.CO.ID,Denpasar - Meningkatnya jumlah satelit internet di orbit bumi kini memunculkan tantangan baru bagi industri antariksa, yakni bagaimana mengelola satelit yang sudah habis masa pakainya tanpa menambah risiko sampah ruang angkasa. Dalam beberapa bulan terakhir, SpaceX mempercepat proses deorbit satelit Starlink sebagai bagian dari peremajaan jaringan internet satelitnya yang terus berkembang.
Berdasarkan laporan tengah tahunan yang disampaikan kepada Komisi Komunikasi Federal (FCC) Amerika Serikat, sebanyak 260 satelit Starlink dikembalikan ke atmosfer bumi pada periode Desember 2025 hingga Mei 2026. Sebanyak 176 unit berasal dari satelit Starlink generasi pertama, sedangkan sisanya merupakan satelit generasi kedua.
Langkah tersebut dilakukan karena satelit Starlink memang dirancang memiliki masa operasional sekitar lima tahun sebelum digantikan dengan perangkat yang lebih baru. Saat memasuki atmosfer, satelit diarahkan untuk terbakar sehingga tidak lagi menjadi benda yang mengorbit dan berpotensi menambah kepadatan lalu lintas antariksa.
SpaceX juga mencatat masih ada 349 satelit lain yang telah dinonaktifkan pada periode enam bulan tersebut dan sedang menunggu proses deorbit. Jumlah satelit yang dipensiunkan ini sedikit lebih tinggi dibandingkan periode Juni hingga November 2025 yang mencatat 218 satelit dikeluarkan dari orbit.
Dalam laporannya yang dikutip PCMag pada Sabtu 4 Juli 2026, perusahaan menyatakan proses masuk kembali ke atmosfer dirancang agar seluruh bagian satelit terbakar sebelum mencapai permukaan bumi. "Proses pembakaran ekstrem tersebut mengonsumsi seluruh peralatan satelit tanpa menyisakan serpihan berbahaya bagi penduduk di daratan," tulis laporan tersebut.
Di sisi lain, langkah tersebut memunculkan perhatian dari kalangan ilmuwan karena semakin banyak satelit yang dibakar di atmosfer. Astronom Jonathan McDowell mencatat total satelit Starlink yang telah masuk kembali ke atmosfer kini mencapai 1.344 unit.
Sejumlah peneliti menilai proses tersebut perlu terus dipantau karena material logam yang menguap di atmosfer berpotensi memengaruhi komposisi lapisan udara, termasuk ozon. Meski demikian, hingga kini para ilmuwan masih terus meneliti besarnya dampak jangka panjang dari fenomena tersebut karena data observasi yang tersedia masih berkembang.
Menurut penelitian yang dipublikasikan dalam jurnal Geophysical Research Letters pada 2023, masuknya satelit ke atmosfer dapat menghasilkan partikel aluminium oksida yang bertahan di lapisan atmosfer bagian atas. Peneliti menyebut peningkatan aktivitas re-entry satelit perlu dikaji lebih lanjut untuk memahami pengaruhnya terhadap kimia atmosfer dan lapisan ozon.
Kekhawatiran serupa juga disampaikan sejumlah peneliti yang mendorong pemerintah Amerika Serikat melakukan kajian lingkungan terhadap aktivitas konstelasi satelit berskala besar. Namun, FCC saat ini sedang mempertimbangkan kebijakan yang dapat mengecualikan proyek satelit besar, termasuk Starlink, dari sebagian kewajiban penilaian dampak lingkungan sebagai bagian dari upaya menjaga daya saing industri antariksa Amerika Serikat.
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....