Kuitansi, Bukan Kwitansi: Pentingnya Pembinaan Bahasa di Masyarakat
- 20 Jun 2026 12:16 WIB
- Denpasar
RRI.CO.ID, Denpasar - Mengapa kata “kwitansi” masih ditemukan dalam berbagai dokumen administrasi, padahal bentuk baku dari kwitansi adalah “kuitansi”? Kesalahan ini memang sederhana, tetapi banyak terjadi di lingkungan masyarakat, mulai dari toko, kantor, hingga sekolah.
Padahal bahasa Indonesia memiliki aturan penulisan yang ditetapkan dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI). Aturan tersebut bertujuan agar masyarakat menggunakan bahasa yang baik dan benar sesuai kaidah, baik dalam komunikasi tulis maupun lisan.
Banyak masyarakat masih keliru menulis kata “kwitansi” padahal bentuk bakunya adalah “kuitansi”. Kata “kwitansi” merupakan istilah yang digunakan untuk menyebutkan surat atau bukti penerimaan uang.
Kata “kwitansi” lebih terkenal dalam masyarakat karena terbiasa mendengar dan melihat penulisan dalam kehidupan sehari-hari. Kesalahan ini terjadi akibat pengaruh kebiasaan, kurangnya pemahaman terhadap bahasa baku, dan minimnya perhatian mengenai penggunaan bahasa Indonesia sesuai aturan.
Penulisan “kwitansi” sebenarnya bentuk tidak baku karena penggunaan huruf “w” tidak sesuai penyerapan kata dalam bahasa Indonesia. Kata kuitansi berasal dari bahasa Belanda kwitantie.
Dalam penyerapan bahasa Indonesia, gabungan huruf “kw” pada beberapa kata asing sering disesuaikan menjadi “ku” agar sesuai dengan bunyi dan ejaan dalam bahasa Indonesia. Sehingga kata kwitantie diserap menjadi kuitansi, bukan kwitansi.
Dalam penyerapan bahasa, penyesuaian ejaan sangat penting agar kata yang diserap mudah digunakan dan sesuai dengan aturan bahasa Indonesia. Banyak orang menganggap “kwitansi” dan “kuitansi” memiliki arti yang sama sehingga tidak mempersalahkan penggunaannya.
Padahal, dalam konteks pembinaan bahasa, penggunaan kata baku sangat penting karena berkaitan dengan ketepatan berbahasa. Jika kata yang salah terus digunakan, masyarakat akan sulit membedakan mana bentuk baku dan tidak baku.
Pembinaan bahasa memiliki peran penting dalam memperbaiki kesalahan tersebut. Melalui pembinaan bahasa, masyarakat dapat diberikan pemahaman mengenai pentingnya penggunaan kata baku dalam penulisan resmi.
Pembinaan dapat dilakukan melalui sosialisasi di sekolah, lembaga bahasa, masyarakat, maupun penggunaan media sosial sebagai sarana edukasi. Selain itu, penggunaan bahasa baku mencerminkan sikap profesional dan disiplin.
Dalam dunia administrasi, dokumen yang menggunakan bahasa baku akan terlihat lebih resmi dan terpercaya. Jika penggunaan kata baku seperti “kwitansi” dapat menunjukkan kurangnya ketelitian dalam penulisan.
Meskipun terlihat sederhana, kesalahan seperti ini perlu diperhatikan karena bahasa merupakan identitas bangsa dan alat komunikasi resmi negara. Di era digital saat ini, pembinaan bahasa sangat penting karena informasi menyebar dengan cepat.
Kesalahan penulisan akan tersebar di media sosial atau dokumen digital dapat memengaruhi kebiasaan masyarakat. Maka penggunaan kata baku seperti “kuitansi” perlu disosialisasikan agar masyarakat menggunakan bentuk yang benar.
Jika masyarakat menggunakan bentuk yang benar, kualitas penggunaan bahasa Indonesia dapat meningkat.
(Penulis : Ni Luh Made Intan Kharisma Putri - Universitas PGRI Mahadewa Indonesia)
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....