Laut Pasang Tenggelamkan Mangrove, Karbon Global Terancam Lepas
- 07 Jun 2026 17:15 WIB
- Denpasar
Poin Utama
- Kenaikan permukaan air laut global mengancam kelestarian hutan mangrove dan memicu pelepasan emisi karbon masif.
- Penelitian University of Exeter membuktikan bahwa ekosistem mangrove global terancam kehilangan fungsi sebagai penyerap karbon bumi.
- Pengelolaan kawasan pesisir secara menyeluruh menjadi kunci utama penyelamatan mangrove pada Hari Lingkungan Hidup Sedunia.
RRI.CO.ID, Denpasar - Hutan mangrove dunia terancam tenggelam akibat kenaikan air laut global yang dipicu oleh perubahan iklim ekstrem. Fenomena alam yang mengkhawatirkan ini berpotensi melepaskan kembali simpanan karbon dalam jumlah masif ke atmosfer bumi.
Hutan komoditas pesisir tersebut sebenarnya hanya menempati luasan kurang dari satu persen permukaan bumi kita. Namun, ekosistem istimewa ini ternyata mampu menyimpan sekitar 15 persen dari seluruh karbon laut global.
Data penting tersebut bersumber dari hasil riset terbaru yang telah dipublikasikan melalui laman ScienceDaily. Penelitian berskala internasional ini dipimpin langsung oleh para ilmuwan andal dari University of Exeter Inggris.
Tim ahli menciptakan model komputer baru untuk menilai dampak nyata dari kenaikan permukaan air laut. Mereka mengamati potensi penurunan kapasitas penyimpanan karbon pada seluruh kawasan hutan mangrove selama satu abad.
Dr Arya Iwantoro selaku pemimpin riset menjelaskan bahwa hutan mangrove merupakan penyerap karbon yang sangat efisien. Riset dilakukan saat beliau menempuh fellowship pascadoktoral di University of Exeter, Inggris tersebut.
Riset ini juga melibatkan mitra peneliti lain dari negara Kolombia dan juga Amerika Serikat. Pemodelan komputer canggih tersebut menggunakan data skenario adaptasi resmi milik badan iklim dunia IPCC.
Hasil analisis menunjukkan fakta bahwa kenaikan air laut yang tinggi berdampak buruk bagi mangrove. Kapasitas total penyimpanan zat karbon pada skala lanskap hutan utuh justru dilaporkan terus menurun drastis.
Luisa Fernanda Gómez Vargas selaku peneliti dari University of Exeter turut memberikan sebuah penjelasan ilmiah. Tanaman pesisir ini sangat terspesialisasi karena membutuhkan durasi banjir pasang surut yang sangat spesifik.
Jika batas durasi genangan tersebut terlampaui, maka kawasan pesisir menjadi tidak sesuai untuk pertumbuhan. Tanaman mangrove akan tenggelam secara perlahan lalu mati dan kemudian membusuk di wilayah tersebut.
Kematian tanaman dan erosi tanah kaya karbon mengubah peran hutan menjadi sumber emisi baru. Kondisi kritis ini tentu menjadi perhatian serius dalam momen peringatan Hari Lingkungan Hidup Sedunia.
Dr Barend van Maanen selaku pemimpin proyek karbon di Exeter menegaskan perlunya tindakan nyata kita. Pemahaman bentang alam pesisir secara utuh sangat krusial untuk melindungi masa depan ekosistem mangrove.
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....