Siswa asal Bali Borong Gelar Robo Soccer Internasional

  • 31 Mei 2026 19:49 WIB
  •  Denpasar

RRI.CO.ID, Jakarta – Enam siswa asal Bali sukses mengharumkan nama Indonesia dalam ajang internasional Codeavour 7.0 International Showdown, kompetisi bergengsi bidang coding, artificial intelligence (AI), dan robotics yang digelar di BINUS University Alam Sutera, Jakarta, pada 16–17 Mei 2026. Dalam kompetisi yang diikuti lebih dari 1.500 peserta dari berbagai negara tersebut, kontingen Bali berhasil memborong prestasi pada kategori Robo Soccer.

Para siswa yang dibina oleh Koding Akademi ini tampil pada Track 3, kategori khusus pengembangan robot soccer yang untuk pertama kalinya dipertandingkan dalam Codeavour. Mereka tidak hanya dituntut menguasai coding dan AI, tetapi juga harus mampu merancang robot yang cepat, kokoh, dan lincah dalam arena pertandingan.

Prestasi membanggakan diraih pasangan Victor Nera Umardicha dan Zachary Griffin Handoko dari SMA Santo Yoseph Denpasar yang sukses meraih Juara 2 (First Runner Up) kategori Robo Soccer Senior. Sementara Putu Wirahadi Putra dari SMAN 1 Sukawati bersama I Gusti Made Priya Abhiseka Nareswara dari SMPN 1 Gianyar berhasil meraih Juara 3 (Second Runner Up).

Di kategori Robo Soccer Junior, pasangan Jeremy Huan En Yu dari Santosa Intercultural School dan Gde Erland Dewantara Kurniawan dari Bali Public School juga berhasil menyabet Juara 2 (First Runner Up). Founder Koding Akademi, Dipl.-Inf AA Gde Rai Adi P Sanjaya, mengatakan pencapaian tersebut menjadi bukti bahwa pelajar Bali mampu bersaing sejajar dengan peserta dari kota besar maupun negara lain.

“Kami sangat bangga. Ini bukan sekadar prestasi enam siswa, tetapi bukti nyata bahwa anak-anak Bali memiliki kemampuan dan potensi besar di bidang teknologi. Mereka lolos dan berprestasi karena kerja keras, proses pembinaan, dan dedikasi luar biasa,” ujarnya.

Ia menjelaskan, seluruh peserta telah menjalani persiapan intensif mulai dari penyempurnaan coding, penguatan perangkat keras robot, hingga simulasi strategi pertandingan menghadapi lawan internasional. Selain kemampuan teknis, pembinaan mental dan kepercayaan diri juga menjadi fokus utama.

Menurut Agung Adi, perkembangan teknologi yang sangat cepat membuat pembelajaran coding dan AI penting diperkenalkan sejak usia sekolah. Ia menilai coding tidak hanya mengajarkan kemampuan teknis, tetapi juga membangun pola pikir logis, kreatif, dan kemampuan problem solving.

“Kami ingin membangun ekosistem tempat anak-anak muda Bali berkembang dan berani menunjukkan kemampuannya di level global. Harapannya, mereka pulang dengan rasa percaya diri bahwa mereka mampu berdiri sejajar dengan pelajar dari seluruh dunia,” tambahnya.

Mentor tim, Vieri Nurgracie Al Ayyubi, menambahkan bahwa tim Bali memiliki keunggulan karena para siswa sudah dibekali dasar robotika sejak awal pembelajaran. “Kelebihan anak-anak Bali adalah mereka sudah memahami fundamental robotika dan coding, sehingga lebih siap melakukan setting robot dan pengembangan strategi saat lomba berlangsung,” jelasnya.

Meski demikian, persaingan di babak final tetap berlangsung sengit. Tim Bali bahkan harus menghadapi lawan internasional yang menggunakan robot dengan empat motor penggerak, sementara robot buatan tim Bali hanya menggunakan dua motor. Prestasi ini sekaligus mempertegas meningkatnya minat generasi muda Bali terhadap dunia teknologi, robotika, dan AI. Dari yang sebelumnya hanya dipandang sebagai bidang khusus calon programmer, kini coding mulai dilihat sebagai sarana kreativitas, inovasi, dan pengembangan masa depan anak muda Indonesia di era digital.

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....