Peneliti Temukan Pengganti Gas Freon dari Garam

  • 18 Mei 2026 14:48 WIB
  •  Denpasar

RRI.CO.ID, California - Para peneliti berhasil mengembangkan metode baru untuk mendinginkan ruangan tanpa menggunakan bahan kimia berbahaya seperti hydrofluorocarbon (HFC) atau freon. Teknologi ini memanfaatkan garam sebagai komponen utama dalam sistem pendingin yang diklaim lebih aman bagi lingkungan.

Selama ini, sistem pendingin pada AC, kulkas, dan dispenser bekerja dengan cairan khusus yang menyerap lalu membuang panas dari dalam ruangan. Cairan tersebut kemudian berubah menjadi gas dan kembali menjadi cairan dalam sistem tertutup agar proses pendinginan terus berulang.

Meski sangat efektif, penggunaan freon selama bertahun-tahun menjadi perhatian karena berdampak buruk terhadap lingkungan. Beberapa jenis refrigeran diketahui berkontribusi terhadap pemanasan global dan kerusakan lapisan ozon.

Penelitian terbaru dari Lawrence Berkeley National Laboratory dan University of California, Berkeley mencoba menghadirkan solusi alternatif yang lebih ramah lingkungan. Para peneliti mengembangkan sistem pendinginan baru dengan memanfaatkan proses perubahan energi pada material, mirip seperti es yang mencair menjadi air.

Dalam proses alami, es yang mencair akan menyerap panas dari sekitarnya sehingga membuat suhu menjadi lebih dingin. Para peneliti kemudian mencari cara agar proses “mencair” itu bisa terjadi tanpa perlu menaikkan suhu.

Solusinya ditemukan melalui penggunaan ion atau partikel bermuatan energi yang dicampurkan ke dalam material tertentu. Teknologi ini dikenal dengan nama siklus ionokalori atau ionocaloric cycle.

Contoh sederhana dari proses ini sebenarnya sudah sering digunakan di negara empat musim saat musim dingin. Garam ditebarkan di jalan bersalju untuk membantu mencairkan es tanpa harus meningkatkan suhu udara secara signifikan.

“Belum ada solusi alternatif yang sukses menciptakan dingin, yang bekerja dengan efisien, memenuhi aspek keselamatan, dan tidak berdampak buruk untuk lingkungan,” kata Drew Lilley, dikutip Minggu 17 Mei 2026. Ia menambahkan, “Kami pikir siklus ionocalori punya potensi.”

Dalam uji coba, tim peneliti menggunakan campuran garam berbasis yodium dan natrium untuk mencairkan etilena karbonat. Cairan ini juga umum digunakan dalam baterai lithium-ion dan diproduksi dengan memanfaatkan karbon dioksida sehingga disebut memiliki emisi sangat rendah bahkan berpotensi negatif emisi.

Hasil pengujian menunjukkan perubahan suhu hingga 25 derajat Celcius hanya dengan daya listrik sekitar 1 volt. Temuan ini membuka peluang hadirnya teknologi pendingin yang lebih hemat energi dibanding sistem AC dan kulkas konvensional saat ini.

⁠⁠⁠⁠⁠⁠⁠

Saat ini para peneliti masih mengembangkan sistem agar bisa digunakan secara komersial di rumah maupun industri. Salah satu fokus pengembangannya adalah mencari jenis garam paling efektif untuk menyerap panas dari ruangan.

Pada 2025, peneliti menemukan bahwa garam berbasis nitrat menjadi salah satu kandidat paling efisien dalam teknologi pendingin baru ini. Jika berhasil diproduksi massal, teknologi tersebut berpotensi mengurangi ketergantungan dunia terhadap freon sekaligus menekan konsumsi listrik perangkat pendingin rumah tangga.

google-preference
Kata Kunci / Tags

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....