Lapisan Ozon Pulih, tapi Ada Masalah Tersembunyi
- 07 Mei 2026 10:16 WIB
- Denpasar
Poin Utama
- Lapisan ozon sedang dalam proses pemulihan namun terhambat oleh kebocoran bahan kimia industri yang tidak terduga.
- Kebocoran zat perusak dari bahan baku manufaktur mencapai 3,6 persen, jauh melampaui estimasi awal sebesar 0,5 persen.
- Penundaan pemulihan ozon selama tujuh tahun dapat dihindari jika industri beralih ke bahan kimia alternatif yang lebih aman.
RRI.CO.ID, Denpasar - Kabar gembira datang dari langit, lapisan ozon pelindung Bumi perlahan mulai pulih dan membaik. Sayangnya, ada kebocoran bahan kimia industri yang diam-diam menghambat proses penyembuhan ini menjadi lebih lambat.
Protokol Montreal 1987 sebenarnya telah berhasil menghapus penggunaan zat-zat berbahaya perusak ozon. Namun, sebuah penelitian terbaru menunjukkan adanya "celah" dalam sistem yang selama ini luput dari pengawasan.
Zat perusak ozon ternyata masih boleh diproduksi sebagai bahan baku pembuatan material lain. Awalnya, kebocoran ke atmosfer diperkirakan hanya sebesar 0,5 persen, angka yang dianggap sangat kecil.
Data dari laman SciTechDaily menyebutkan bahwa kenyataan di lapangan ternyata jauh berbeda dari perkiraan awal. Peneliti menemukan bahwa tingkat kebocoran sebenarnya mencapai angka 3,6 persen, jauh lebih tinggi dari asumsi.
Susan Solomon, Profesor Studi Lingkungan di MIT, menyebut zat bahan baku ini sebagai "bug" dalam sistem. Beliau menjelaskan bahwa produksi zat perusak ozon hampir terhenti secara global, kecuali untuk penggunaan khusus ini.
Jika emisi ini terus berlanjut, pemulihan total lapisan ozon bisa tertunda hingga tujuh tahun. Prediksi awal ozon kembali normal pada 2066 mungkin mundur menjadi tahun 2073 akibat kebocoran industri.
Stefan Reimann dari Swiss Federal Laboratories menyatakan bahwa kita perlu memperketat pengawasan pada proses industri. Beliau merasa tidak adil jika pengecualian ini tetap ada sementara sektor lain sudah berhenti total.
Penelitian ini melibatkan tim internasional hebat dari MIT, NASA, NOAA, hingga universitas di berbagai benua. Mereka menggunakan jaringan pemantau AGAGE untuk melacak gas atmosfer secara akurat di seluruh dunia.
Meskipun terdengar mengkhawatirkan, para ahli optimis industri kimia punya kemampuan untuk segera berinovasi. Ada ribuan bahan kimia alternatif yang bisa digunakan sebagai pengganti zat perusak ozon tersebut.
Memperbaiki kebocoran ini bukan hanya soal angka, tapi tentang mencegah ribuan kasus kanker kulit. Mari kita dukung langkah dunia untuk menutup "celah" ini demi langit yang lebih sehat.
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....