Iran Mencurigai Terdapat Backdoor di Perangkat IT Buatan AS

  • 23 Apr 2026 14:41 WIB
  •  Denpasar

RRI.CO.ID, California – Di tengah panasnya konflik antara Iran dan Amerika Serikat, pemerintah Iran menuduh adanya penggunaan metode tersembunyi untuk menyerang infrastruktur digital mereka. Tuduhan ini mencuat setelah sejumlah perangkat jaringan mengalami gangguan tidak biasa seperti restart sendiri atau tiba-tiba terputus saat digunakan.

Dilansir dari The Register, perangkat yang terdampak berasal dari perusahaan teknologi seperti Cisco, Juniper Networks, dan Fortinet. Iran menilai kejadian ini mencurigakan karena sebelumnya mereka telah memutus koneksi dari internet global, sehingga gangguan tersebut dianggap bukan kebetulan.

Salah satu dugaan yang muncul adalah penggunaan “backdoor” sebagai alat sabotase siber. Backdoor merupakan metode tersembunyi yang memungkinkan seseorang mengakses sistem komputer tanpa melalui proses login normal.

Dalam praktiknya, backdoor bisa berupa program, kode berbahaya, atau fitur tersembunyi yang ditanamkan dalam sistem. Dengan cara ini, pelaku dapat mengendalikan perangkat dari jarak jauh, mencuri data, atau bahkan merusak sistem tanpa diketahui pengguna.

Backdoor biasanya disisipkan melalui malware seperti Trojan, celah keamanan perangkat lunak, atau konfigurasi sistem yang lemah. Bahkan, dalam beberapa kasus, akses ini bisa tertanam langsung di firmware atau perangkat keras.

Meski sering digunakan untuk tujuan jahat, backdoor sebenarnya juga bisa dibuat oleh pengembang untuk keperluan perbaikan sistem. Namun, jika akses ini jatuh ke tangan yang salah, risikonya bisa sangat besar bagi keamanan data dan jaringan.

Beberapa tanda perangkat terkena backdoor antara lain aktivitas jaringan yang tidak wajar, perubahan sistem tanpa izin, atau munculnya file asing. Kondisi ini membuat dugaan Iran semakin kuat bahwa gangguan yang terjadi bukan sekadar kesalahan teknis biasa.

⁠⁠⁠⁠⁠⁠⁠

Meski begitu, klaim ini masih sulit diverifikasi secara independen. Situasi menjadi semakin kompleks karena pembatasan akses internet di Iran yang membuat informasi tidak mudah dipastikan kebenarannya.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....