Credential Stuffing, Serangan Siber Dengan Target Password Sama di Berbagai Akun
- 25 Mar 2026 14:25 WIB
- Denpasar
RRI.CO.ID, Denpasar - Serangan credential stuffing adalah salah satu bentuk serangan siber otomatis yang memanfaatkan kebiasaan pengguna dalam menggunakan ulang kata sandi di berbagai akun. Menurut informasi dari Auth0, dalam serangan ini, penjahat siber mencoba memasukkan kombinasi nama pengguna dan kata sandi yang telah bocor dari satu layanan ke layanan lain untuk mendapatkan akses tanpa izin.
Serangan ini menjadi sangat efektif karena banyak pengguna internet masih menggunakan kata sandi yang sama atau mirip di berbagai platform. Akibatnya, jika satu akun bocor akibat pelanggaran data, akun lain yang menggunakan kredensial serupa juga berisiko diambil alih.
Proses credential stuffing biasanya dimulai dari tahap akuisisi kredensial, di mana penyerang mengumpulkan daftar besar username dan password yang valid. Dilansir dari Friendly Captcha, data ini umumnya berasal dari insiden kebocoran data sebelumnya dan sering diperjualbelikan di forum atau pasar gelap di dark web.
Setelah memperoleh data, penyerang menggunakan alat otomatis seperti bot untuk menjalankan proses login secara massal ke berbagai situs atau aplikasi. Dengan kecepatan tinggi, ribuan hingga jutaan kombinasi kredensial dicoba dalam waktu singkat tanpa interaksi manual.
| Baca juga: Apa Itu Model Keamanan Siber Zero Trust? |
Keberhasilan serangan ini sangat bergantung pada kebiasaan pengguna yang kurang aman dalam mengelola kata sandi. Ketika satu kombinasi berhasil, penyerang dapat langsung mengakses akun korban tanpa perlu meretas sistem keamanan secara teknis.
Tahap berikutnya adalah pengambilalihan akun, di mana penyerang dapat mencuri data pribadi, melakukan transaksi ilegal, atau bahkan menjual akses akun tersebut kepada pihak lain. Dampaknya bisa sangat merugikan, terutama jika akun yang diretas terkait dengan keuangan atau identitas digital penting.
Untuk melindungi diri dari serangan credential stuffing, pengguna disarankan untuk menggunakan kata sandi yang unik dan kuat di setiap akun. Selain itu, penggunaan pengelola kata sandi dan aktivasi autentikasi multi-faktor (MFA) terbukti efektif dalam menambah lapisan keamanan.
Sebagai langkah tambahan, pengguna juga dapat memeriksa apakah data mereka pernah bocor melalui layanan seperti Have I Been Pwned. Dengan meningkatkan kesadaran dan praktik keamanan digital, risiko menjadi korban credential stuffing dapat diminimalkan secara signifikan.
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....